Menu ✖

Mode Gelap
Lima Tersangka Korupsi Proyek Jalan di Simeulue Ditahan, Kerugian Negara Rp851 Juta Akademisi Minta Tes Urine DPRA hingga Eksekutif dan Yudikatif PC PERTI Aceh Besar: Beut Kitab Bak Sikula Sah Secara Hukum, Jangan Giring Opini Sesat Persib Bidik Tiket 16 Besar ACL 2 di Kandang Melbourne Victory Polri Tetapkan Listyo Sigit, Ahrie Sonta, Eko Hadi Tersangka Penyadapan Presiden UIN Ar-Raniry dan Pijar Foundation Jalin Kerja Sama Perkuat Akses Pendidikan bagi Mahasiswa Disabilitas

Pemerintahan

Cerita Tiga Srikandi, Panen Melon hingga Menikmati Tempe Koro

badge-check


					Tiga Srikandi Aceh Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Aceh Malahayati, memanen dan mencicipi melon di Gampong Lam Manyang Kecamatan Pekan Bada, Kamis (2/4/2026). Perbesar

Tiga Srikandi Aceh Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Aceh Malahayati, memanen dan mencicipi melon di Gampong Lam Manyang Kecamatan Pekan Bada, Kamis (2/4/2026).

BANDA ACEH – Matahari mulai meninggi, saat rombongan tiga Srikandi Aceh keluar dari komplek Meuligoe Gubernur Aceh, Kamis (2/4/2026).

Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Aceh Malahayati, bertolak ke Gampong Lam Manyang Kecamatan Pekan Bada, untuk memanen serta menikmati Melon.

Rombongan juga bertolak ke Gampong Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala untuk melihat langsung proses pembuatan Tempe Koro serta menikmati Tempe Goreng Koro langsung, fresh from the penggorengan.

Di Gampong Lam Manyang, Tiga Srikandi didampingi Rifat selaku pendiri Rumah Pangan, memanen langsung melon di lahan seluas setengah hektar. Total ada 3 ribu batang melon di tanam di lahan ini.

Ada dua jenis melon yang dikembangkan di sini, yaitu Inthanon dan sweetnet. Perempuan yang akrab disapa Kak Na itu pun berkesempatan memanen dan menikmati langsung lezat dan manisnya Melon Sweetnet.

“Mari datang ke kebun melon Gampong Lam Manyang. Petik sendiri dan langsung makan di sini. Jangan lupa, pilih melon sweetnet yang ‘wah’ atau sudah sedikit pecah merekah. Dijamin rasanya jauh lebih manis dibanding dengan yang masih bulat sempurna,” ujar perempuan yang akrab disapa Kak Na berpromosi.

“Harganya juga jauh lebih murah jika kita beli langsung di kebun. Hanya Rp30 ribu perkilogramnya. Jika di pasar harganya bisa mencapai Rp40 ribu hingga Rp45 ribu rupiah,” sambung Kak Na.

Usai puas memanen dan mencicipi melon, 3 Srikandi Aceh bertolak ke Gampong Alue Naga. Puluhan kilogram melon dibawa serta sebagai oleh-oleh serta memberdayakan ekonomi pengelola kebun melon di Peukan Bada.

Rombongan lalu menuju Rumah Produksi Pengolahan Tempe Koro. Pusat Pengolahan Koro ini juga dibina oleh Rumah Pangan binaan Rifat bersama tiga rekannya.

Untuk diketahui bersama, Rifat adalah putra asli Aceh yang menyelesaikan study pertanian di Belanda yang berhasil lulus dengan predikat suma cumlaude. Prestasi tersebut membuat dirinya mendapat tawaran menjadi dosen.

Namun Rifat menolak dan memilih untuk fokus pada kegiatan sosial, khususnya membantu dan menghimpun masyarakat mengembangkan sektor pertanian di tanah kelahirannya, Aceh .

“Rumah Pangan ini masih kecil, tapi dengan tekad dan kekuatan bersama kami yakin bisa bertumbuh. Dan kami menyadari, upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu, dukungan dari Ibu selaku Ketua TP PKK dan semua pihak, tentu akan sangat membantu upaya kami,” ujar Rifat.

Kepada 3 Srikandi Aceh, Rifat menjelaskan, di unit usaha Kacang Koro ini, mereka mengembangkan 5 komoditas, mulai dari benih, kacang koro, koro krispi, keripik dan tempe.

“Untuk produk tempe beku itu bisa bertahan hingga 2 bulan, sedangkan di suhu ruang tempe koro akan bertahan 2 hingga 3 hari saja. Untuk mendukung produksi, kita juga menanam kacang koro sendiri Bu. Di sekitar sini ada juga kebunnya. Sementara di seluruh Aceh, secara total ada 23 hektar yang tersebar di 8 kabupaten dan kota,” ujar Rifat menjelaskan.

Usai berdialog dan berdiskusi terkait pengembangan tempe koro, melon serta sejumlah unit usaha yang dikembangkan oleh Rumah Pangan, 3 Srikandi Aceh pun meninggalkan lokasi setelah seekumnyamemborong beberapa batang tempe siap olah hasil produksi Rumah Pengolahan Koro Alue Naga. []

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dek Fadh Bersama Wakil Ketua KPK Serahkan Penghargaan Desa Antikorupsi kepada 15 Gampong di Aceh

21 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Dek Fadh Minta Kerja Sama Pemkab agar Pembangunan Huntap Tuntas pada 2027

20 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Pj Sekda Aceh Ajak IKNR Perkuat Persatuan dan Berkontribusi bagi Pembangunan Daerah

18 Oktober 2026 - 20:54 WIB

Wali Kota Sabang Ajak Masyarakat Bangga dan Gunakan Produk UMKM Lokal

17 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Kabut Asap Mulai Selimuti Banda Aceh, Warga Diminta Waspada

16 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Trending di Pemerintahan