Menu

Mode Gelap
Lulus 3,5 Tahun Lewat Publikasi Ilmiah, Urwatil Wusqa Jadi Lulusan Terbaik FAH UIN Ar-Raniry Tambang Aceh Dinilai Hanya Untungkan Oligarki UIN Ar-Raniry dan UINSU Medan Perpanjang Kerja Sama FAH UIN Ar-Raniry Yudisium 142 Lulusan, 27 Raih Predikat Cum Laude Gubernur Mualem dan SKK Migas Sepakat Revisi PoD Blok Andaman Mukarramah Fadhlullah Terpilih Aklamasi Pimpin PERWOSI Aceh Periode 2026–2030

News

Lulus 3,5 Tahun Lewat Publikasi Ilmiah, Urwatil Wusqa Jadi Lulusan Terbaik FAH UIN Ar-Raniry

badge-check


					Lulus 3,5 Tahun Lewat Publikasi Ilmiah, Urwatil Wusqa Jadi Lulusan Terbaik FAH UIN Ar-Raniry Perbesar

BANDA ACEH – Saat sebagian besar mahasiswa menyelesaikan studi melalui skripsi, Urwatil Wusqa memilih jalur berbeda. Mahasiswi Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu menuntaskan studinya melalui publikasi artikel ilmiah.

Advertisements
Ad 26

Pilihan tersebut berbuah manis. Pada Yudisium Gelombang I Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar Kamis (11/6/2026), Wusqa dinobatkan sebagai lulusan terbaik FAH dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 dan predikat cum laude. Ia menyelesaikan studi sarjananya dalam waktu 3,5 tahun.

Perempuan kelahiran Aceh Besar, 18 Oktober 2004, itu mengaku telah menargetkan diri untuk lulus melalui publikasi ilmiah jauh sebelum memasuki semester akhir. Inspirasi tersebut muncul setelah ia sering melihat pengalaman mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang berhasil menyelesaikan studi melalui konversi jurnal ilmiah.

“Awalnya saya sering melihat mahasiswa dari berbagai kampus di luar daerah yang berhasil lulus melalui konversi jurnal ilmiah. Dari situ saya tertantang. Saya berpikir, kalau mereka bisa, saya juga harus bisa menerapkan hal yang sama pada diri saya,” ujarnya.

Bagi Wusqa, publikasi ilmiah bukan sekadar alternatif pengganti skripsi. Ia memandang jalur tersebut sebagai bentuk kontribusi akademik yang lebih luas karena hasil penelitian dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat ilmiah di berbagai negara.

Menurutnya, hasil riset yang telah dikerjakan selama masa kuliah tidak seharusnya hanya tersimpan sebagai dokumen yang jarang dibaca. Melalui artikel ilmiah, gagasan dan temuan penelitian dapat menjangkau mahasiswa, dosen, peneliti, hingga akademisi secara lebih luas.

“Artikel ilmiah lebih ringkas, padat, dan langsung menyentuh substansi persoalan. Format seperti ini lebih mudah diakses dan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan manfaat bagi banyak orang,” katanya.

Selain sebagai kontribusi akademik, publikasi ilmiah juga dipersiapkannya sebagai investasi untuk masa depan. Wusqa berencana melanjutkan studi ke jenjang magister dan menilai rekam jejak penelitian menjadi salah satu modal penting dalam persaingan memperoleh beasiswa.

Ia menilai pengalaman menulis dan menerbitkan artikel ilmiah tidak hanya memperkuat portofolio akademik, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis yang dibutuhkan dalam dunia kerja maupun pendidikan lanjutan.

Meski meraih predikat lulusan terbaik, Wusqa menegaskan bahwa capaian tersebut bukan tujuan utama selama menjalani perkuliahan.

“Target menjadi lulusan terbaik memang sudah ada sejak awal masuk Fakultas Adab dan Humaniora. Namun bagi saya, itu hanya bonus. Fokus utama saya adalah memahami ilmu yang diajarkan dosen secara maksimal,” ujarnya.

Prinsip tersebut dipegang sejak semester pertama. Ia berusaha tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga memperdalam pemahaman terhadap kajian sejarah dan kebudayaan yang menjadi bidang keilmuannya.

Selama kuliah, Wusqa aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan nonakademik. Ia mengajar di Dayah Al-Azhar, menjadi tutor privat, terlibat sebagai reporter dan host Ar-Raniry TV, serta mengikuti berbagai kegiatan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga pernah menjalani magang di Museum Negeri Aceh yang memperkuat minatnya terhadap pelestarian warisan budaya. Pengalaman tersebut semakin berkembang melalui partisipasinya dalam Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Internasional di Malaysia dan Thailand.

Dalam bidang organisasi, Wusqa aktif sebagai anggota Public Relation Duta Gender UIN Ar-Raniry, Wakil Sekretaris Umum Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Alumni Dayah Aceh (PB-IMADA), Ketua Divisi Ilmu Kebudayaan DEMA FAH, serta anggota Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora.

Di tengah berbagai aktivitas tersebut, ia tetap mampu mempertahankan prestasi akademik hingga meraih predikat lulusan terbaik fakultas.

“Pencapaian ini sejatinya adalah hadiah dari proses panjang, konsistensi belajar, dan kerja keras yang saya pupuk di setiap semester,” katanya.

Wusqa mengaku nilai-nilai yang ditanamkan keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya. Putri pasangan Salman Alvarisy dan Nilawati itu selalu mengingat pesan orang tuanya agar hidup sederhana dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal utama dalam kehidupan.

“Ayah saya selalu mengatakan bahwa warisan paling berharga yang bisa diberikan orang tua bukanlah harta, melainkan pendidikan dan ilmu pengetahuan,” tuturnya.

Selain itu, orang tuanya juga berpesan agar ia tidak meninggalkan nilai-nilai agama dalam proses menuntut ilmu. Pesan tersebut terus menjadi pegangan hingga berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Setelah lulus, Wusqa berencana melanjutkan studi magister dengan fokus pada bidang antropologi atau permuseuman. Ketertarikannya terhadap sejarah, budaya, dan pelestarian warisan masa lalu menjadi alasan utama memilih bidang tersebut.

Saat ini, ia tengah mempersiapkan berbagai persyaratan untuk melanjutkan studi melalui program beasiswa. Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi akademisi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Kepada mahasiswa UIN Ar-Raniry, Wusqa berpesan agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin dan tidak menyia-nyiakan pengorbanan orang tua.

“Jangan pernah meremehkan ruang kelas. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana dan diskusi-diskusi kecil itulah benih-benih cendekiawan masa depan lahir. Manfaatkan masa kuliah bukan sekadar untuk mengejar gelar, tetapi untuk menempa diri menjadi manusia yang bermanfaat,” ujarnya.

Pada Yudisium Gelombang I dan II Tahun Akademik 2025/2026, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry meyudisium 142 lulusan sarjana. Sebanyak 27 lulusan meraih predikat cum laude, 63 lulusan predikat pujian, 51 lulusan predikat sangat baik, dan satu lulusan predikat baik. [ ]

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Tambang Aceh Dinilai Hanya Untungkan Oligarki

12 Juni 2026 - 11:38 WIB

UIN Ar-Raniry dan UINSU Medan Perpanjang Kerja Sama

12 Juni 2026 - 08:13 WIB

FAH UIN Ar-Raniry Yudisium 142 Lulusan, 27 Raih Predikat Cum Laude

12 Juni 2026 - 08:11 WIB

UIN Ar-Raniry Perkuat Budaya Hafal Al-Qur’an Dikalangan Mahasiswa

10 Juni 2026 - 18:33 WIB

BSI Catat Laba Rp2,8 Triliun, Aset Tembus Rp452 Triliun

9 Juni 2026 - 17:06 WIB

Trending di News