Menu

Mode Gelap
Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual Habiburokhman: KUHAP Baru Sudah Jawab Tuntutan Reformasi Polri Shayne Pede Tatap Laga Melawan Persib Jangan Bohongi Rakyat, Pemerintah Didesak Transparan soal Harga dan Kondisi BBM Mahasiswa UIN Ar-Raniry Kaji 1.934 Manuskrip di Museum Aceh, Perkuat Studi Filologi Aceh Tindak Lanjut Permintaan Gubernur, KKP Survei dan Siapkan Perbaikan Muara Perikanan Dangkal di Aceh

News

Menkomdigi Ajak Pers Jaga Kualitas

badge-check


					Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan sambutan dalam Pemutaran dan Diskusi Film 3 Wajah Rohanna Koeddoes di Kantor IDN, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Jumat (06/02/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi) Perbesar

Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan sambutan dalam Pemutaran dan Diskusi Film 3 Wajah Rohanna Koeddoes di Kantor IDN, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Jumat (06/02/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi)

JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas informasi publik di tengah percepatan digitalisasi dan banjir konten di ruang digital. Menurutnya, kecepatan penyampaian informasi harus berjalan seiring dengan ketelitian, empati, dan tanggung jawab sosial.

Ajakan tersebut disampaikan Meutya Hafid dalam Diskusi Film “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang mengangkat sosok Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, di Jakarta Selatan, pada Jumat (6/2/2026).

Meutya menekankan bahwa ekosistem digital yang serba cepat berpotensi melahirkan konten emosional dan menyesatkan apabila tidak diimbangi dengan sikap profesional dan kepekaan jurnalistik.

“Karena digitalisasi mengutamakan kecepatan, kepekaan dalam tulisan terasa hilang. Padahal dulu kami sangat mengutamakan rasa dalam sebuah tulisan,” ujar Meutya.

Ia mengingatkan bahwa kebebasan pers sejak awal tidak dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia maupun nilai-nilai budaya bangsa. Dalam konteks ruang digital saat ini, Meutya menilai tantangan semakin besar karena masyarakat dibanjiri konten yang tidak selalu mendidik.

“Media sosial dan media baru ini kemudian diisi dengan karya-karya yang justru tidak mendidik, bahkan sebagian merusak generasi muda,” katanya.

Meutya menilai semangat jurnalistik yang diperjuangkan Roehana Koeddoes sejak 1911 tetap relevan hingga kini. Pers, menurutnya, lahir sebagai alat pendidikan dan pembebasan, bukan semata-mata mengejar kecepatan dan sensasi.

“Saat ini dengan digitalisasi, semua orang dan semua perempuan bisa menulis dan membuat medianya masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitas dan tanggung jawab dari kebebasan itu,” jelasnya.

Menjelang peringatan Hari Pers Nasional, Meutya mengajak insan pers untuk kembali menempatkan data, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama dalam kerja jurnalistik. Dengan demikian, ruang digital Indonesia dapat tetap sehat, beradab, dan melindungi masyarakat.

“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata, dan meneruskan semangat yang telah dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual

6 Mei 2026 - 23:24 WIB

Jangan Bohongi Rakyat, Pemerintah Didesak Transparan soal Harga dan Kondisi BBM

6 Mei 2026 - 13:11 WIB

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Kaji 1.934 Manuskrip di Museum Aceh, Perkuat Studi Filologi Aceh

6 Mei 2026 - 10:45 WIB

Bank Aceh Syariah dan PT Taspen Perkuat Sinergi Layanan Pembayaran Pensiun

5 Mei 2026 - 21:56 WIB

UIN Ar-Raniry Gandeng HIMPSI, Matangkan Pembukaan Prodi Pendidikan Profesi Psikologi

5 Mei 2026 - 21:25 WIB

Trending di News