BANDA ACEH – Transparansi Tender Indonesia (TTI) mendukung langkah tegas Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Asnawi, yang menyatakan seluruh aktivitas tambang ilegal harus dihentikan dan alat berat wajib keluar dari kawasan hutan. Namun, TTI mengingatkan pernyataan keras tanpa aksi nyata di lapangan hanya akan jadi retorika kosong.
Koordinator TTI, Nasruddin Bahar, menilai praktik tambang emas ilegal di Aceh selama ini berlangsung terang-terangan. Puluhan hingga ratusan alat berat beroperasi bebas di kawasan hutan tanpa izin. Kondisi ini dinilai mustahil luput dari pantauan aparat.
“Publik sudah muak dengan peringatan. Yang dibutuhkan sekarang adalah tindakan. Kalau serius, bersihkan semua alat berat dan proses hukum pelakunya,” tegas Nasruddin.
Menurut TTI, tambang ilegal bukan sekadar aktivitas penambang di lapangan. Ada dugaan kuat keterlibatan jaringan besar: pemodal, penyedia alat berat, pemasok BBM, hingga penadah hasil tambang—bahkan pihak-pihak yang diduga memberi ‘perlindungan’ sehingga praktik ini terus berjalan.
TTI menegaskan, penertiban tidak boleh berhenti pada penyitaan alat berat. Aparat harus membongkar aliran uang dan mengungkap siapa yang selama ini menikmati keuntungan dari perusakan hutan dan pencemaran lingkungan.
“Selama otak di baliknya tidak disentuh, tambang ilegal akan terus hidup. Hari ini alat disita, besok datang lagi yang baru,” ujar Nasruddin.
TTI juga mendesak Pemerintah Aceh membentuk tim terpadu lintas lembaga—melibatkan ESDM, Polda Aceh, Kejaksaan Tinggi Aceh, Gakkum Kementerian Kehutanan, hingga pemerintah kabupaten—untuk operasi berkelanjutan, bukan sekadar razia sesaat yang cepat hilang gaungnya.
Selain itu, distribusi BBM harus diawasi ketat. TTI menilai, selama rantai pasok logistik tidak diputus, tambang ilegal akan terus beroperasi tanpa hambatan.
TTI berharap instruksi Gubernur Aceh Muzakir Manaf melalui Kadis ESDM bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi momentum nyata untuk menunjukkan keberpihakan pada penyelamatan lingkungan.
“Jangan sampai Aceh hanya terlihat tegas di atas kertas. Bongkar tambang ilegal sampai ke akar—termasuk siapa aktor intelektual yang selama ini bermain di balik layar,” tutup Nasruddin Bahar.







