BANDA ACEH – Relokasi pedagang sirih yang selama bertahun-tahun berjualan di dekat pintu masuk Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh mendapat apresiasi dari masyarakat. Penataan tersebut dinilai membuat kawasan masjid ikonik itu semakin indah, rapi, dan nyaman bagi jamaah maupun wisatawan.
Beberapa hari lalu, lebih dari 10 pedagang sirih yang berjualan di sekitar pintu masuk Masjid Raya Baiturrahman direlokasi sementara ke depan pintu masuk Mall Pelayanan Publik (MPP) Pasar Aceh, Banda Aceh.
Proses relokasi dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP/WH) Kota Banda Aceh secara persuasif dan humanis. Para pedagang bahkan dibantu petugas dalam memindahkan serta mengangkut gerobak dan barang dagangan ke lokasi baru.
“Alhamdulillah, kita sudah berhasil merelokasi sementara pedagang sirih. Dengan melakukan pendekatan persuasif dan memberikan edukasi kepada pedagang, mereka menerima dengan lapang dada untuk pindah ke lokasi relokasi sementara demi keindahan Masjid Raya Baiturrahman,” kata Kasatpol PP/WH Banda Aceh Muhammad Rizal, Selasa (25/8/2026).
Rizal menjelaskan, langkah tersebut dilakukan sesuai arahan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal agar penataan pedagang dilakukan melalui pendekatan persuasif dan edukatif.
Menurutnya, proses pemindahan berlangsung dengan semangat gotong royong. Petugas dan pedagang saling membantu memindahkan gerobak dagangan ke lokasi relokasi.
Tokoh Masyarakat Apresiasi
Tokoh masyarakat Banda Aceh, Alfian, turut memberikan apresiasi terhadap langkah Satpol PP/WH. Ia menilai relokasi tersebut membuat tata letak kawasan Masjid Raya Baiturrahman menjadi lebih rapi dan estetik.
“Wisatawan, khususnya dari luar Aceh, tentu akan lebih nyaman saat memasuki Masjid Raya. Aktivitas ibadah juga semakin nyaman. Apalagi saat Salat Jumat, jamaah bisa lebih leluasa masuk ke masjid,” ujarnya.
Alfian mengatakan, selama ini keberadaan pedagang sirih di kawasan tersebut belum pernah ditata secara serius. Karena itu, relokasi yang dilakukan secara humanis dinilai menjadi langkah positif dalam memperindah wajah ibu kota.
“Pedagang kini direlokasi ke lokasi yang lebih ramai di depan MPP Pasar Aceh. Jadi, penataan tetap dilakukan tanpa mengabaikan mata pencaharian mereka,” katanya.
Ia juga menilai proses penertiban patut diapresiasi karena berlangsung tanpa konflik.
“Satu catatan penting, penertiban dilakukan tanpa chaos. Pedagang bersedia pindah secara sukarela. Artinya, petugas berhasil memberikan edukasi dan sosialisasi dengan baik. Kami mendukung penuh langkah Satpol PP Banda Aceh untuk terus menata kota agar lebih indah,” tegas Alfian.







