Menu ✖

Mode Gelap
Lantik Kaprodi FTK UIN Ar-Raniry, Rektor: Jangan Persulit Mahasiswa DPR Minta Lapas Cibinong Dievaluasi Perkuat PPID UIN Ar-Raniry, Komisioner KIP Berikan Bimtek Pengelolaan Informasi Publik Wagub Dek Fadh Terima Kunjungan FPRMI Aceh Persija Tak Mau Terbuai Tiga Kemenangan Beruntun Garudayaksa FC Rekrut Dua Talenta Muda, Azizu dan Tristan

News

Menkomdigi Ajak Pers Jaga Kualitas

badge-check


					Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan sambutan dalam Pemutaran dan Diskusi Film 3 Wajah Rohanna Koeddoes di Kantor IDN, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Jumat (06/02/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi) Perbesar

Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan sambutan dalam Pemutaran dan Diskusi Film 3 Wajah Rohanna Koeddoes di Kantor IDN, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Jumat (06/02/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi)

JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas informasi publik di tengah percepatan digitalisasi dan banjir konten di ruang digital. Menurutnya, kecepatan penyampaian informasi harus berjalan seiring dengan ketelitian, empati, dan tanggung jawab sosial.

Ajakan tersebut disampaikan Meutya Hafid dalam Diskusi Film “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang mengangkat sosok Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, di Jakarta Selatan, pada Jumat (6/2/2026).

Meutya menekankan bahwa ekosistem digital yang serba cepat berpotensi melahirkan konten emosional dan menyesatkan apabila tidak diimbangi dengan sikap profesional dan kepekaan jurnalistik.

“Karena digitalisasi mengutamakan kecepatan, kepekaan dalam tulisan terasa hilang. Padahal dulu kami sangat mengutamakan rasa dalam sebuah tulisan,” ujar Meutya.

Ia mengingatkan bahwa kebebasan pers sejak awal tidak dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia maupun nilai-nilai budaya bangsa. Dalam konteks ruang digital saat ini, Meutya menilai tantangan semakin besar karena masyarakat dibanjiri konten yang tidak selalu mendidik.

“Media sosial dan media baru ini kemudian diisi dengan karya-karya yang justru tidak mendidik, bahkan sebagian merusak generasi muda,” katanya.

Meutya menilai semangat jurnalistik yang diperjuangkan Roehana Koeddoes sejak 1911 tetap relevan hingga kini. Pers, menurutnya, lahir sebagai alat pendidikan dan pembebasan, bukan semata-mata mengejar kecepatan dan sensasi.

“Saat ini dengan digitalisasi, semua orang dan semua perempuan bisa menulis dan membuat medianya masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitas dan tanggung jawab dari kebebasan itu,” jelasnya.

Menjelang peringatan Hari Pers Nasional, Meutya mengajak insan pers untuk kembali menempatkan data, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama dalam kerja jurnalistik. Dengan demikian, ruang digital Indonesia dapat tetap sehat, beradab, dan melindungi masyarakat.

“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata, dan meneruskan semangat yang telah dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lantik Kaprodi FTK UIN Ar-Raniry, Rektor: Jangan Persulit Mahasiswa

25 September 2026 - 15:31 WIB

DPR Minta Lapas Cibinong Dievaluasi

24 September 2026 - 20:21 WIB

Perkuat PPID UIN Ar-Raniry, Komisioner KIP Berikan Bimtek Pengelolaan Informasi Publik

24 September 2026 - 20:02 WIB

Polda Aceh Berhasil Ungkap Kasus Aborsi, Tiga Pelaku Ditangkap

23 September 2026 - 15:16 WIB

KPT Banda Aceh Bina PN BNA: Jangan Obral Putusan Bebas

23 September 2026 - 15:06 WIB

Trending di News