Menu

Mode Gelap
UIN Ar-Raniry Wisuda 2.060 Lulusan, Termasuk Mahasiswa Korea Selatan dan Mahasiswa Program Double Degree Kisah Aulia Rizki, Anak Desa yang Raih Dua Gelar Magister dan Wakili Ribuan Wisudawan UIN Ar-Raniry Jamaah Haji Aceh Wafat di Pesawat Saat Pulang, Total Meninggal Capai 16 Orang Gubernur Aceh Takziah ke Rumah Duka Mantan Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah Sekda Aceh Terima Tim Pendataan Sensus Ekonomi 2026 di Kediaman Resmi Pemerintah Aceh Siapkan Revisi PoD Blok Andaman

News

Menkomdigi Ajak Pers Jaga Kualitas

badge-check


					Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan sambutan dalam Pemutaran dan Diskusi Film 3 Wajah Rohanna Koeddoes di Kantor IDN, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Jumat (06/02/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi) Perbesar

Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan sambutan dalam Pemutaran dan Diskusi Film 3 Wajah Rohanna Koeddoes di Kantor IDN, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Jumat (06/02/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi)

JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas informasi publik di tengah percepatan digitalisasi dan banjir konten di ruang digital. Menurutnya, kecepatan penyampaian informasi harus berjalan seiring dengan ketelitian, empati, dan tanggung jawab sosial.

Ajakan tersebut disampaikan Meutya Hafid dalam Diskusi Film “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang mengangkat sosok Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, di Jakarta Selatan, pada Jumat (6/2/2026).

Meutya menekankan bahwa ekosistem digital yang serba cepat berpotensi melahirkan konten emosional dan menyesatkan apabila tidak diimbangi dengan sikap profesional dan kepekaan jurnalistik.

“Karena digitalisasi mengutamakan kecepatan, kepekaan dalam tulisan terasa hilang. Padahal dulu kami sangat mengutamakan rasa dalam sebuah tulisan,” ujar Meutya.

Ia mengingatkan bahwa kebebasan pers sejak awal tidak dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia maupun nilai-nilai budaya bangsa. Dalam konteks ruang digital saat ini, Meutya menilai tantangan semakin besar karena masyarakat dibanjiri konten yang tidak selalu mendidik.

“Media sosial dan media baru ini kemudian diisi dengan karya-karya yang justru tidak mendidik, bahkan sebagian merusak generasi muda,” katanya.

Meutya menilai semangat jurnalistik yang diperjuangkan Roehana Koeddoes sejak 1911 tetap relevan hingga kini. Pers, menurutnya, lahir sebagai alat pendidikan dan pembebasan, bukan semata-mata mengejar kecepatan dan sensasi.

“Saat ini dengan digitalisasi, semua orang dan semua perempuan bisa menulis dan membuat medianya masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitas dan tanggung jawab dari kebebasan itu,” jelasnya.

Menjelang peringatan Hari Pers Nasional, Meutya mengajak insan pers untuk kembali menempatkan data, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama dalam kerja jurnalistik. Dengan demikian, ruang digital Indonesia dapat tetap sehat, beradab, dan melindungi masyarakat.

“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata, dan meneruskan semangat yang telah dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

UIN Ar-Raniry Wisuda 2.060 Lulusan, Termasuk Mahasiswa Korea Selatan dan Mahasiswa Program Double Degree

22 Juni 2026 - 16:23 WIB

Kisah Aulia Rizki, Anak Desa yang Raih Dua Gelar Magister dan Wakili Ribuan Wisudawan UIN Ar-Raniry

22 Juni 2026 - 16:21 WIB

Jamaah Haji Aceh Wafat di Pesawat Saat Pulang, Total Meninggal Capai 16 Orang

22 Juni 2026 - 11:51 WIB

BINUS Medan Dorong Inovasi Human-Centered dalam Semangat Global Digitalpreneur

20 Juni 2026 - 20:50 WIB

Prof Jimly Semprot PTUN Soal Disertasi Bahlil: Hakim Ketinggalan Zaman, Rusak Etika UI!

20 Juni 2026 - 13:05 WIB

Trending di News