Menu

Mode Gelap
Pemerintah Aceh Percepat Kegiatan Tambahan TKD untuk Pemulihan Pasca Bencana Hidrometeorologi Wagub Aceh Perkuat Silaturahmi dengan Ulama dan Dayah di Aceh Selatan Persiraja Gelar Latihan Perdana 1 Agustus 2026 Pemerintah Aceh Raih Tiga Penghargaan pada Forum Pemred Multimedia Award 2026 Ketua DPRK Jamu Anak Yatim Bersama Partner Berbagi Terungkap! Pelaku Curas Toko Emas Tapaktuan Ternyata Oknum Polisi

News

Porsi Impor Minyak RI dari Timur Tengah 25%, Pemerintah Siapkan Skenario Pengalihan Pasokan

badge-check


					Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia Perbesar

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa porsi impor minyak mentah (crude oil) Indonesia dari kawasan Timur Tengah hanya berkisar 20% hingga 25% dari total impor nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

“Dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20% sampai 25%. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20% sampai 25% dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Dengan komposisi tersebut, ketergantungan langsung Indonesia terhadap pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz berada di kisaran seperempat dari total impor crude. Sisanya dipasok dari negara-negara di luar kawasan konflik, seperti Angola, Amerika Serikat, dan Brasil.

Sebagai salah satu jalur energi terpenting dunia, Selat Hormuz dilalui sekitar 20,1 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan minyak global. Penutupan jalur ini akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu kekhawatiran terganggunya suplai energi global.

Meski porsi impor Indonesia dari kawasan tersebut tidak dominan, pemerintah tetap menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Dalam rapat perdana Dewan Energi Nasional (DEN) yang digelar atas arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah membahas dampak dinamika global terhadap pasokan energi dalam negeri.

Salah satu skenario yang disiapkan adalah mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna memastikan kepastian pasokan.

“Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita,” tandas Bahlil.

Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan risiko gangguan suplai apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut dan berdampak pada distribusi energi global.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ketua DPRK Jamu Anak Yatim Bersama Partner Berbagi

19 Juli 2026 - 14:34 WIB

Terungkap! Pelaku Curas Toko Emas Tapaktuan Ternyata Oknum Polisi

19 Juli 2026 - 14:26 WIB

Wali Nanggroe Usulkan Aceh Jadi Pilot Project Pengadilan Niaga Syariah Nasional

18 Juli 2026 - 21:12 WIB

TTI: Jangan Cuma Peringatan! Bongkar Tambang Ilegal hingga Otak di Baliknya

17 Juli 2026 - 08:20 WIB

Prodi Teknologi Informasi Paling Diminati pada PMB Reguler SSE UIN Ar-Raniry 2026

15 Juli 2026 - 22:34 WIB

Trending di News