Menu

Mode Gelap
Purbaya Heran Pengusaha Tak Punya Bisnis Tapi Dapat Restitusi Pajak Sekda Aceh Bersilaturahmi dengan Praja IPDN Asal Aceh di Jatinangor 76 Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Ikuti Pembekalan PKL PBNU Lantik Pengurus PWNU Aceh, Rektor UIN Ar-Raniry Jadi Katib Syuriyah UIN Ar-Raniry dan Baitul Mal Simeulue Teken Kerja Sama Program Satu Keluarga Satu Sarjana Peaceful Muharam, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Anak Yatim dan Difabel

News

Aceh Berdamai, Tapi Aminah Ditinggalkan

badge-check


					Aminah Perbesar

Aminah

ACEH UTARA- Di dusun Banda Selamat, desa Alue Dua, kecamatan Nisam Antara, kabupaten Aceh Utara, provinsi Aceh berdiri sebuah rumah kayu yang tubuhnya mulai keropos dimakan waktu dan rayap. Di sanalah Aminah, perempuan kelahiran 1950, menjalani hari-hari tuanya dalam kesunyian yang tak banyak diketahui orang.

Sejak Jafar, suaminya yang juga dikenal dengan nama panggilan Utoh Fan, meninggal dunia dalam konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 2005 silam.

Aminah hidup sendiri, Jafar adalah seorang mantan kombatan GAM, memegang peran penting sebagai penghubung wilayah, dengan sandi Radio Tok-Tok Kayee. Ia meninggal dalam sebuah kontak tembak, hanya beberapa waktu menjelang kesepakatan damai Aceh ditandatangani di Helsinki.

Hari ini, dua dekade setelah suaminya pergi, Aminah masih tetap tinggal di rumah yang sama rumah yang dahulu dibangun dari semangat, perjuangan, dan cinta. Kini, rumah itu nyaris roboh, dindingnya menembus cahaya matahari, atapnya bocor saat hujan turun, dan tiang-tiangnya dimakan rayap.

Ia bertahan seadanya, tanpa aliran bantuan dari pemerintah yang pernah dijanjikan yang akan mengobati luka masa lalu.

“Saya tidak minta banyak, cuma tempat tinggal yang lebih layak untuk menunggu akhir hayat saya,” ucap Aminah pelan (28/04).

Matanya menatap kosong ke luar jendela. Di usianya yang ke-75 tahun, Aminah hidup dalam keterbatasan. Tidak ada pensiun, tidak ada santunan, tidak ada bantuan sosial rutin dari pemerintah daerah. Ia mengandalkan dari anak-anaknya dan juga bantuan sesekali dari tetangga yang peduli. Tapi semua itu tidak cukup untuk memperbaiki rumah atau sekadar memenuhi kebutuhan dasar harian.

Yang menyedihkan, hingga saat ini belum ada perhatian serius dari pihak manapun. Padahal, nama Jafar bukanlah nama asing di kalangan masyarakat pegunungan Nisam Antara. Ia adalah bagian dari sejarah perjuangan yang dulu digelorakan demi martabat dan masa depan Aceh.

Namun, selepas suara tembakan menghilang dan bendera damai dikibarkan, nama-nama seperti Jafar dan kehidupan yang ditinggalkan oleh mereka perlahan dilupakan.

Aminah tak menyimpan dendam. Tapi ia berharap. Harapan sederhana dari seorang janda pejuang yang hanya ingin menikmati sisa hidup dengan tenang dan manusiawi.

“Kalau bisa, biar ada yang bantu, biar rumah ini bisa berdiri sedikit lebih kuat, sebelum saya kembali kkepada-Nya” Ucapnya sambari mengusap mata.

Kisah Aminah adalah pengingat bahwa damai bukan hanya tentang senjata yang disimpan. Tapi juga tentang merawat mereka yang ditinggalkan oleh perang, menjaga martabat mereka yang pernah berkorban, dan memastikan bahwa tak ada yang dilupakan di ujung sejarah yang pernah berdarah.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Purbaya Heran Pengusaha Tak Punya Bisnis Tapi Dapat Restitusi Pajak

29 Juni 2026 - 11:05 WIB

76 Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Ikuti Pembekalan PKL

28 Juni 2026 - 16:43 WIB

PBNU Lantik Pengurus PWNU Aceh, Rektor UIN Ar-Raniry Jadi Katib Syuriyah

28 Juni 2026 - 16:39 WIB

UIN Ar-Raniry dan Baitul Mal Simeulue Teken Kerja Sama Program Satu Keluarga Satu Sarjana

26 Juni 2026 - 10:01 WIB

Peaceful Muharam, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Anak Yatim dan Difabel

25 Juni 2026 - 13:20 WIB

Trending di News