Menu ✖

Mode Gelap
Said Akmal dan Raisya Sharina Juara Turnamen Tenis Meja UIN Ar-Raniry DPR Dorong Penguatan UMKM bagi PMI yang Kembali ke Tanah Air 60 Persen Warga Binaan Lapas Perempuan Bandung Tersangkut Kasus Narkotika Narkoba Disebut Sudah Masuk Gang di Bali, 92,5 Persen Tersangka WNI Komisi I DPR Soroti Kesiapan Tempur TNI AU Hadapi Perang Modern Mukarramah Beri Semangat Kontingen Aceh di Lomba Senam Kreasi Nasional Perwosi 2026

News

Indonesia Pilih Jalur Diplomasi Hadapi Kenaikan Tarif Impor AS

badge-check


					Menteri Perdagangan, Budi Santoso menghadiri Rapat Koordinasi (rakor) terkait Penerapan Tarif Perdagangan Baru Amerika Serikat Terhadap Negara Mitra yang berlangsung di Jakarta. Acara ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Dok Kemendag) Perbesar

Menteri Perdagangan, Budi Santoso menghadiri Rapat Koordinasi (rakor) terkait Penerapan Tarif Perdagangan Baru Amerika Serikat Terhadap Negara Mitra yang berlangsung di Jakarta. Acara ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Dok Kemendag)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia memilih pendekatan diplomasi untuk merespons kebijakan tarif impor baru yang diterapkan Amerika Serikat terhadap produk-produk Indonesia.

Langkah itu dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) darurat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (7/4/2025).

Menko Airlangga menegaskan pemerintah akan mengedepankan dialog konstruktif dalam menghadapi kebijakan Presiden AS Donald Trump tersebut. “Kami tidak akan bereaksi emosional. Diplomasi dan dialog adalah jalan terbaik untuk melindungi kepentingan nasional,” ujarnya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, kebijakan tarif baru AS berpotensi memengaruhi 15 persen produk ekspor Indonesia, termasuk tekstil, elektronik, dan minyak sawit. Kementerian Perindustrian memperkirakan potensi kerugian mencapai Rp12 triliun jika tidak ada penyelesaian.

Rakor yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi itu menghasilkan beberapa langkah strategis yakni penyusunan dokumen keberatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), intensifikasi diplomasi melalui ASEAN-US Summit mendatang serta identifikasi produk rentan dan penyiapan opsi diversifikasi pasar.

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas menambahkan, pemerintah akan memperkuat jalur diplomasi bilateral untuk mencari solusi terbaik.

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) mendorong percepatan perjanjian dagang bilateral untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS. Sementara itu, asosiasi tekstil melaporkan kekhawatiran akan pembatalan kontrak oleh pembeli AS akibat kenaikan harga.

Pemerintah berencana membentuk satgas khusus untuk memantau perkembangan kebijakan AS dan akan menggelar forum darurat dengan pelaku usaha pekan depan.

Sebagai langkah jangka pendek, Kementerian Keuangan menyiapkan insentif pajak untuk eksportir. Sementara untuk jangka panjang, pemerintah akan memperluas pasar ekspor ke Afrika dan Timur Tengah.

Pertemuan lanjutan dengan Duta Besar AS di Jakarta telah dijadwalkan untuk membuka ruang negosiasi lebih lanjut.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

DPR Dorong Penguatan UMKM bagi PMI yang Kembali ke Tanah Air

28 September 2026 - 00:06 WIB

60 Persen Warga Binaan Lapas Perempuan Bandung Tersangkut Kasus Narkotika

28 September 2026 - 00:02 WIB

Narkoba Disebut Sudah Masuk Gang di Bali, 92,5 Persen Tersangka WNI

27 September 2026 - 23:58 WIB

Dede Adistira Terpilih Aklamasi Pimpin IPAU Banda Aceh

26 September 2026 - 21:05 WIB

Pansus DPR Dorong Batas Jelas Penggunaan AI dalam Desain Industri

26 September 2026 - 20:57 WIB

Trending di News