JAKARTA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak akan mengganggu stabilitas keuangan negara.
Harga minyak mentah global yang sempat menyentuh level US$ 80 per barel, menurut Purbaya, masih berada dalam batas aman asumsi fiskal pemerintah.
“Bahkan saya hitung kalau sampai ke US$ 92 per barel pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tak masalah,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Selasa (3/3/2026).
Strategi Antisipasi Lonjakan Harga
Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif apabila harga minyak terus merangkak naik. Salah satu strategi utama adalah memperketat pengawasan penerimaan pajak guna mencegah kebocoran.
“Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit. Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan,” jelasnya.
Dengan langkah tersebut, Purbaya meyakini potensi pelebaran defisit akibat gejolak global masih dapat dikendalikan.
“Kalaupun globalnya (harga minyak) di atas, selama kita bisa jaga domestik demand yang 90% kontribusinya ke ekonomi kita, juga masih bisa survive,” tegasnya.
Dampak Konflik Timur Tengah ke Pasar Energi Global
Kenaikan harga komoditas energi terjadi di awal pekan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz serta pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan global.
Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini dapat memicu lonjakan permintaan komoditas energi seperti minyak mentah dan gas alam.
Berdasarkan data Trading Economics per Selasa (3/3) pukul 12.00 WIB:
Harga minyak mentah WTI berada di level US$ 72,6 per barel, naik 11,38% dalam sebulan dan 26,36% secara year to date (YTD).
Harga gas alam kembali menembus US$ 3,0 per MMBtu setelah sempat turun ke US$ 2,8 pada pekan sebelumnya. []







