Menu

Mode Gelap
Kak Na: Cokbang Contoh Nyata Aceh Mampu Produksi Hulu-Hilir secara Mandiri Sidak RSUD Kota Langsa, Sekda Nasir: Bangun Komunikasi dan Edukasi Pasien Unjukrasa Mahasiswa Soal Pergub JKA, Jubir Nurlis: Penting untuk Bahan Evaluasi Tetapkan Tersangka Fitnah Sekda Nasir, Polisi Identifikasi Pihak Lain yang Terlibat Kak Na: Konsumsi Ikan Penting untuk Mendukung Tumbuh Kembang Otak Anak RSUDZA Layani 2.000 Pasien per Hari, Obat Diberikan, Administrasi Diurus

News

Prodi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry Bahas Tantangan Pengkajian Hadis di Era Digital

badge-check


					Prodi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry Bahas Tantangan Pengkajian Hadis di Era Digital Perbesar

BANDA ACEH— Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) menggelar kuliah umum bertema “Pengkajian Hadis dan Isu Kontemporer dalam Era Digital”, di Ruang Multifungsi Pascasarjana, Jumat (28/11/2025).

Kegiatan tersebut menghadirkan dua akademisi Malaysia yang menyoroti transformasi kajian hadis di tengah cepatnya perkembangan teknologi.

Pada sesi pertama, Prof Madya Dr Syed Najihuddin Syed Hassan memaparkan materi bertajuk “Cahaya Nabawi dalam Gelombang Digital: Peluang dan Cabaran”. Ia menilai digitalisasi membuka ruang baru bagi penyebaran dan pembelajaran hadis, namun juga menghadirkan risiko serius terkait otentikasi dan banjir informasi keagamaan yang tidak terverifikasi.

“Informasi semakin melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin jarang,” ujarnya, merujuk pada pergeseran otoritas keilmuan yang kini kerap ditentukan algoritma media sosial alih-alih sanad atau proses verifikasi klasik.

Akademisi Fakulti Pengajian Quran Dan Sunnah, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) ini mengurai persoalan digital dari tiga lensa filsafat Islam yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Menurutnya, era digital membuat batas identitas kian kabur, kebenaran rentan ditentukan tren viral, sementara etika menjadi benteng terakhir untuk menjaga nilai keilmuan. Ia menegaskan pentingnya adab digital, memverifikasi sebelum membagikan, menjaga sidq, dan menahan diri dari menyebarkan fitnah.

Pada sesi kedua, Nurul Izzatul Huda Mohamad Zainuzi, kandidat doktor USIM, memaparkan kajiannya tentang “Model Pengajian Islam Berasaskan Hadis” di sejumlah universitas negeri di Malaysia. Penelitiannya menunjukkan bahwa transisi pembelajaran ke ruang digital belum sepenuhnya siap, mulai dari kompetensi teknologi dosen hingga ketiadaan platform yang benar-benar mendukung metodologi pengajaran hadis.

Temuannya mencatat kebutuhan mendesak akan struktur pembelajaran yang lebih sistematis, kurasi sumber digital yang sahih, serta pedoman ICT khusus untuk kajian hadis. Melalui pendekatan Design and Development Research, Huda kemudian merumuskan model pembelajaran daring berstruktur yang menggabungkan tradisi tahammul al-hadith, model desain belajar ASSURE, dan teori UTAUT2 untuk mengukur penerimaan teknologi.

Sementara Ketua Program Doktor Studi Islam, Prof Dr Syamsul Rijal dalam sambutannya menekankan perlunya integrasi antara tradisi keilmuan Islam dengan inovasi teknologi agar kajian hadis tetap relevan, kredibel, dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Selain luring, kegiatan juga diikuti secara daring melalui Zoom untuk menjangkau mahasiswa dan peneliti dari berbagai daerah. [ ]

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Tetapkan Tersangka Fitnah Sekda Nasir, Polisi Identifikasi Pihak Lain yang Terlibat

11 Mei 2026 - 20:02 WIB

Polri Mutasi 108 Pati dan Pamen, Sejumlah Kapolda dan PJU Mabes Berganti

9 Mei 2026 - 14:45 WIB

Banjir Rendam Tiga Kecamatan di Nagan Raya, Akses Meulaboh–Tapak Tuan Terganggu

7 Mei 2026 - 12:46 WIB

Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual

6 Mei 2026 - 23:24 WIB

Jangan Bohongi Rakyat, Pemerintah Didesak Transparan soal Harga dan Kondisi BBM

6 Mei 2026 - 13:11 WIB

Trending di News