Menu

Mode Gelap
UIN Ar-Raniry dan Baitul Mal Simeulue Teken Kerja Sama Program Satu Keluarga Satu Sarjana Peaceful Muharam, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Anak Yatim dan Difabel Jersey Baru Persija Pertahankan DNA Macan Kemayoran Sekda Aceh Lepas Kontingen TSA ke Sumut National Taekwondo Championship 2026 Said Agil Ingatkan Lulusan Terus Belajar, Rektor UIN Ar-Raniry Sebut AI Bukan Pengganti Guru Gadai Emas Melonjak 100%, BSI Perkuat Ekosistem Emas dari Hulu hingga Hilir

News

Sudirman Said Desak Koreksi Total Makna Kekuasaan atas Tragedi Ojol Dilindas Rantis

badge-check


					Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, Perbesar

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said,

Jakarta – Peristiwa tewasnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), yang dilindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Kamis (28/8) malam, memicu gelombang duka sekaligus amarah publik. Aksi protes yang melatarbelakangi tragedi itu sendiri dipicu oleh aksi elite politik seperti joget-joget di DPR dan Istana yang tak peka dengan realitas pahit rakyat yang kehilangan pekerjaan dan terbebani pajak berlipat ganda.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri telah menyampaikan permintaan maaf serta berjanji mengusut kasus ini hingga tuntas. Tujuh anggota Brimob yang berada di dalam rantis diperiksa Divisi Propam, sementara Kompolnas dilibatkan sebagai pengawas eksternal.

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, menilai insiden ini tidak bisa sekadar dipandang sebagai pelanggaran protap. Menurutnya, tragedi yang merenggut nyawa seorang pekerja muda itu mencerminkan cara pandang kekuasaan yang telah jauh menyimpang dari makna asalnya.

“Korban telah jatuh (lagi). Pengemudi ojol, pembayar pajak, tewas dilindas oleh kendaraan rantis satuan Brimob Polri. Di batin rakyat masih tersimpan tragedi Kanjuruhan yang memilukan,” ujar Sudirman. Ia mengingatkan bahwa seluruh perangkat apparat baik kendaraan, gaji personel, pangkat, kantor, hingga senjata dan gas air mata, semuanya dibiayai oleh uang rakyat.

Sudirman juga menyinggung bahwa statemen para petinggi negara sejauh ini masih berkutat pada pelanggaran prosedural. Baginya, ini adalah cermin kegagalan dalam memaknai fungsi kekuasaan. “Yang diperlukan adalah koreksi total, untuk meluruskan makna kekuasaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mantan Menteri ESDM ini menyatakan kekuasaan seharusnya dipahami sebagai titipan rakyat untuk melayani dan melindungi, bukan sarana untuk membagi-bagi keuntungan, melayani diri sendiri, apalagi mencuri. Ia menyoroti sikap sebagian elite yang justru memamerkan kekuasaan dengan “berjoget-joget” seraya mengabaikan luka batin rakyat.

“Kekuasaan bukan untuk diagungkan, dibanggakan, atau dijaga sampai menindas dan membunuh rakyat, para pembayar seluruh ongkos bernegara,” ucap Sudirman.

Ia menutup pernyataannya dengan seruan tajam untuk mengoreksi total cara elite memandang kekuasaan.

“Sesungguhnya mulai dari Presiden, para Menteri, para anggota DPR sampai kepala daerah, tidak lebih adalah para pelayan rakyat. Apa buktinya? Mereka dibiayai pajak rakyat. Tapi banyak yang mengingkarinya. Karena itu harus ada koreksi total dalam cara memandang dan mengelola kekuasaan,” pungkas Sudirman.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

UIN Ar-Raniry dan Baitul Mal Simeulue Teken Kerja Sama Program Satu Keluarga Satu Sarjana

26 Juni 2026 - 10:01 WIB

Peaceful Muharam, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Anak Yatim dan Difabel

25 Juni 2026 - 13:20 WIB

Said Agil Ingatkan Lulusan Terus Belajar, Rektor UIN Ar-Raniry Sebut AI Bukan Pengganti Guru

24 Juni 2026 - 15:31 WIB

Gadai Emas Melonjak 100%, BSI Perkuat Ekosistem Emas dari Hulu hingga Hilir

24 Juni 2026 - 13:44 WIB

Justice Collaborator Sony Sonjaya Ditolak

23 Juni 2026 - 20:27 WIB

Trending di News