Menu

Mode Gelap
Banjir Rendam Tiga Kecamatan di Nagan Raya, Akses Meulaboh–Tapak Tuan Terganggu BSN Championship 2026 Perebutkan Hadiah Total Rp175 Juta, Abeh Ubee Abeh! Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual Habiburokhman: KUHAP Baru Sudah Jawab Tuntutan Reformasi Polri Shayne Pede Tatap Laga Melawan Persib Jangan Bohongi Rakyat, Pemerintah Didesak Transparan soal Harga dan Kondisi BBM

News

Sudirman Said Desak Koreksi Total Makna Kekuasaan atas Tragedi Ojol Dilindas Rantis

badge-check


					Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, Perbesar

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said,

Jakarta – Peristiwa tewasnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), yang dilindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Kamis (28/8) malam, memicu gelombang duka sekaligus amarah publik. Aksi protes yang melatarbelakangi tragedi itu sendiri dipicu oleh aksi elite politik seperti joget-joget di DPR dan Istana yang tak peka dengan realitas pahit rakyat yang kehilangan pekerjaan dan terbebani pajak berlipat ganda.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri telah menyampaikan permintaan maaf serta berjanji mengusut kasus ini hingga tuntas. Tujuh anggota Brimob yang berada di dalam rantis diperiksa Divisi Propam, sementara Kompolnas dilibatkan sebagai pengawas eksternal.

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, menilai insiden ini tidak bisa sekadar dipandang sebagai pelanggaran protap. Menurutnya, tragedi yang merenggut nyawa seorang pekerja muda itu mencerminkan cara pandang kekuasaan yang telah jauh menyimpang dari makna asalnya.

“Korban telah jatuh (lagi). Pengemudi ojol, pembayar pajak, tewas dilindas oleh kendaraan rantis satuan Brimob Polri. Di batin rakyat masih tersimpan tragedi Kanjuruhan yang memilukan,” ujar Sudirman. Ia mengingatkan bahwa seluruh perangkat apparat baik kendaraan, gaji personel, pangkat, kantor, hingga senjata dan gas air mata, semuanya dibiayai oleh uang rakyat.

Sudirman juga menyinggung bahwa statemen para petinggi negara sejauh ini masih berkutat pada pelanggaran prosedural. Baginya, ini adalah cermin kegagalan dalam memaknai fungsi kekuasaan. “Yang diperlukan adalah koreksi total, untuk meluruskan makna kekuasaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mantan Menteri ESDM ini menyatakan kekuasaan seharusnya dipahami sebagai titipan rakyat untuk melayani dan melindungi, bukan sarana untuk membagi-bagi keuntungan, melayani diri sendiri, apalagi mencuri. Ia menyoroti sikap sebagian elite yang justru memamerkan kekuasaan dengan “berjoget-joget” seraya mengabaikan luka batin rakyat.

“Kekuasaan bukan untuk diagungkan, dibanggakan, atau dijaga sampai menindas dan membunuh rakyat, para pembayar seluruh ongkos bernegara,” ucap Sudirman.

Ia menutup pernyataannya dengan seruan tajam untuk mengoreksi total cara elite memandang kekuasaan.

“Sesungguhnya mulai dari Presiden, para Menteri, para anggota DPR sampai kepala daerah, tidak lebih adalah para pelayan rakyat. Apa buktinya? Mereka dibiayai pajak rakyat. Tapi banyak yang mengingkarinya. Karena itu harus ada koreksi total dalam cara memandang dan mengelola kekuasaan,” pungkas Sudirman.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Banjir Rendam Tiga Kecamatan di Nagan Raya, Akses Meulaboh–Tapak Tuan Terganggu

7 Mei 2026 - 12:46 WIB

Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual

6 Mei 2026 - 23:24 WIB

Jangan Bohongi Rakyat, Pemerintah Didesak Transparan soal Harga dan Kondisi BBM

6 Mei 2026 - 13:11 WIB

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Kaji 1.934 Manuskrip di Museum Aceh, Perkuat Studi Filologi Aceh

6 Mei 2026 - 10:45 WIB

Bank Aceh Syariah dan PT Taspen Perkuat Sinergi Layanan Pembayaran Pensiun

5 Mei 2026 - 21:56 WIB

Trending di News