Menu

Mode Gelap
Puan: Ambang Batas Parlemen 5 Persen Belum Jadi Keputusan Kenji Nishioka Dipanggil Timnas Filipina, Kalteng FC Bawa Nama ke Panggung ASEAN Rekaman CCTV Diduga Bocor, Bank Aceh Diadukan ke OJK dan BI Garuda dan SMSI Aceh Besar Membahas Masa Depan Konektivitas Aceh Pascasarjana UIN Ar-Raniry Yudisium 152 Alumni Baru DPR Soroti 10 Ribu Desa Belum Terlayani Internet, Minta Pemerataan 3T Dipercepat

News

Tambang Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho

badge-check


					Cagar Alam Jantho, Aceh Besar Perbesar

Cagar Alam Jantho, Aceh Besar

‎ACEH BESAR – Peringatan Hari Bumi yang seharusnya menjadi momentum refleksi justru berubah menjadi potret ironi di Aceh Besar. Di tengah seruan menjaga bumi, Ikatan Pemuda Jantho Lestari bersama Forum Jurnalis Lingkungan Aceh turun langsung ke lapangan, menggelar aksi protes terhadap maraknya tambang ilegal yang masuk kedalam wilayah Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Rabu (22/04/2026).

‎Aksi ini berlangsung di kawasan Krueng Jalin, yang kini berada di ambang kehancuran. Air yang dulunya jernih dan menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi keruh pekat. Dalam kurun dua hingga tiga tahun terakhir, warna air tak lagi mencerminkan kehidupan melainkan tanda kerusakan yang terus dibiarkan.

‎Warga yang selama ini menggantungkan hidup dari sungai kini kehilangan mata pencaharian. Aktivitas ekonomi melemah, dan sektor wisata yang sudah tumbuh di kawasan ini kini mati suri akibat kualitas air yang kian memburuk.

‎Yusri, perwakilan Ikatan Pemuda Jantho Lestari menyebutkan kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

‎“Air Sungai Jalin sudah mulai keruh sejak tiga tahun lalu. Tapi hingga hari ini, tidak ada langkah serius yang benar-benar menghentikan kerusakan ini,” ujarnya.

‎Sementara itu, Koordinator Forum Jurnalis Lingkunga (FJL), Fauzul Munandar menegaskan bahwa kerusakan akibat tambang ilegal juga terjadi di kawasan Cagar Alam Jantho yang turut memberi dampak terhadap aliran Krueng Aceh.

‎“Perubahan kondisi Sungai Jalin dalam beberapa tahun terakhir sangat memprihatinkan. Ini bukan sekadar kerusakan lingkungan, tapi sudah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat, apalagi pemantauan yang kita lakukan kerusakan juga terjadi di dalam kawasan Cagar Alam Jantho”, tegasnya.

‎Ironisnya, hingga saat ini aktivitas tambang ilegal masih terus berlangsung tanpa penindakan tegas. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar terhadap komitmen aparat penegak hukum dalam menangani kejahatan lingkungan yang kian terang-terangan terjadi.

‎“Jika dibiarkan, bukan hanya air sungai yang hilang, tapi masa depan masyarakat juga ikut terkubur bersama lumpur tambang,” tambah jurnalis Nusantara TV ini.

‎Sebagai bentuk penyelamatan sekaligus harapan, para peserta aksi tidak hanya menyuarakan protes, mereka juga melakukan penanaman puluhan pohon di sepanjang bantaran Sungai Jalin.

“Ini sebuah langkah kecil yang bisa kita lakukan, sembari terus bersuara di tengah kerusakan besar, juga menjadi simbol bahwa perjuangan untuk menyelamatkan lingkungan akan selalu ada,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Rekaman CCTV Diduga Bocor, Bank Aceh Diadukan ke OJK dan BI

22 September 2026 - 09:05 WIB

Garuda dan SMSI Aceh Besar Membahas Masa Depan Konektivitas Aceh

21 September 2026 - 19:31 WIB

Pascasarjana UIN Ar-Raniry Yudisium 152 Alumni Baru

20 September 2026 - 19:56 WIB

DPR Soroti 10 Ribu Desa Belum Terlayani Internet, Minta Pemerataan 3T Dipercepat

19 September 2026 - 22:59 WIB

AISZAWA 2026 di UIN Ar-Raniry, Rektor: Zakat dan Wakaf Harus Berdampak pada Masyarakat

18 September 2026 - 08:45 WIB

Trending di News