SURAKARTA — Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menyoroti pentingnya kesiapan tempur atau combat readiness prajurit TNI Angkatan Udara (TNI AU) dalam menghadapi berbagai ancaman militer dan tantangan peperangan modern.
Hal itu disampaikan Amelia saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi I DPR RI ke Landasan Udara Adi Soemarmo, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2026).
Menurut Amelia, combat readiness tidak hanya berkaitan dengan penambahan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga mencakup kesiapan operasi, keandalan pemeliharaan, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga kemandirian industri pertahanan.
“Combat readiness tidak hanya penambahan alutsista, tetapi juga menyangkut bagaimana kesiapan operasi, kemudian keandalan pemeliharaan, kualitas sumber daya manusia sekaligus kemandirian industri pertahanan kita,” ujar Amelia.
Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut juga mengingatkan TNI AU agar terus mengoptimalkan strategi operasi penerbangan guna menghadapi perkembangan peperangan modern, termasuk ancaman siber dan perang multidomain.
“Optimalisasi penerbangan ini memang harus berjalan seiring dengan combat readiness, kemudian juga keselamatan penerbangan,” katanya.
Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah VIII itu menegaskan, peningkatan kemampuan pertahanan tidak boleh hanya berorientasi pada penambahan jumlah dan jenis alutsista. Modernisasi alutsista harus diimbangi dengan kesiapan personel yang memiliki kemampuan, pengetahuan, serta pengalaman memadai.
Menurutnya, keberhasilan strategi dalam menghadapi situasi peperangan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alutsista, tetapi juga kualitas prajurit yang mengoperasikannya.
“Jadi bukan menambah jumlah dan jenis platformnya saja, tetapi harus memastikan pendidikan dan pelatihan yang mampu mencetak personel memiliki combat readiness dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi operasi yang kompleks,” pungkasnya.











