Menu

Mode Gelap
UIN Ar-Raniry dan Baitul Mal Simeulue Teken Kerja Sama Program Satu Keluarga Satu Sarjana Peaceful Muharam, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Anak Yatim dan Difabel Jersey Baru Persija Pertahankan DNA Macan Kemayoran Sekda Aceh Lepas Kontingen TSA ke Sumut National Taekwondo Championship 2026 Said Agil Ingatkan Lulusan Terus Belajar, Rektor UIN Ar-Raniry Sebut AI Bukan Pengganti Guru Gadai Emas Melonjak 100%, BSI Perkuat Ekosistem Emas dari Hulu hingga Hilir

News

Pengamat: Seragam Batik Sekolah Jadi Modus Baru Pungli

badge-check


					Pengamat Kebijakan Publik, Nasrul Zaman Perbesar

Pengamat Kebijakan Publik, Nasrul Zaman

BANDA ACEH— Pengamat Kebijakan Publik, Nasrul Zaman, menyoroti fenomena yang terus berulang setiap tahun ajaran baru, yakni kewajiban pembelian seragam batik sekolah bagi siswa SD, SMP, SMA, hingga SLB di Aceh.

Ia menilai hal ini sebagai bentuk pungutan liar (pungli) terselubung yang membebani orang tua murid, terutama kalangan kurang mampu.

“Hal ini terjadi setiap tahun ketika penerimaan siswa siswa baru,” kata Nasrul Zaman, Minggu (6/7/2025).

Menurutnya, pengadaan seragam batik sekolah tidak memiliki relevansi langsung dengan peningkatan kualitas pendidikan. Justru, hal itu menjadi celah rente bagi oknum pengelola sekolah.

Biaya seragam ditambah sepatu bisa menembus ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bagi keluarga miskin yang makan saja sulit, ini adalah tekanan berat. Jangan sampai program wajib belajar sembilan tahun gagal karena keserakahan sistemik seperti ini.

Nasrul meminta Dinas Pendidikan Aceh untuk tegas melarang kebijakan seragam batik yang tidak esensial. Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya menjadi hak semua anak, bukan beban ekonomi tambahan bagi orang tuanya.

“Kita berharap untuk siswa tidak perlu pakai baju batik karena inilah cara mereka memaksa orang tua siswa membuat seragam pada Taylor dan toko yang telah ditentukan,” ujar Nasrul.

Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk mengevaluasi praktik-praktik semacam ini di lingkungan sekolah. “Pemerintah harus hadir melindungi rakyat kecil. Jangan biarkan sistem pendidikan dikotori oleh kepentingan-kepentingan bisnis tersembunyi di balik kain batik,” pungkasnya.

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

UIN Ar-Raniry dan Baitul Mal Simeulue Teken Kerja Sama Program Satu Keluarga Satu Sarjana

26 Juni 2026 - 10:01 WIB

Peaceful Muharam, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Anak Yatim dan Difabel

25 Juni 2026 - 13:20 WIB

Said Agil Ingatkan Lulusan Terus Belajar, Rektor UIN Ar-Raniry Sebut AI Bukan Pengganti Guru

24 Juni 2026 - 15:31 WIB

Gadai Emas Melonjak 100%, BSI Perkuat Ekosistem Emas dari Hulu hingga Hilir

24 Juni 2026 - 13:44 WIB

Justice Collaborator Sony Sonjaya Ditolak

23 Juni 2026 - 20:27 WIB

Trending di News