Menu

Mode Gelap
DWP UIN Ar-Raniry Salurkan Rp50 Juta untuk Korban Bencana di Sawang Aceh Utara Menkomdigi Ajak Pers Jaga Kualitas Kemkomdigi Buka Akses 8.000 Akun Canva Pro untuk UMKM dan Talenta Kreatif ‎Jelang Ramadhan, Sekda Aceh Koordinasi Percepatan Pembangunan Huntara 6 Proyek Rp 110 Triliun Danantara Mulai Dibangun, Ini Daftarnya Kejati Aceh Amankan Buronan Kasus Pemerkosaan Anak

News

Jenazah Adam Malik Eks Libya Tiba di Aceh

badge-check


					Jenazah Adam Malik Eks Libya Tiba di Aceh Perbesar

BANDA ACEH — Suasana haru menyelimuti Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pagi ini, Kamis 16 Oktober 2025, saat jenazah almarhum Adam Malik, salah seorang mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) alumni pelatihan militer di Libya, tiba di tanah kelahirannya.

Kedatangan jenazah disambut langsung oleh Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Zakaria M. Yacob atau yang akrab disapa Bang Jack Libya, bersama sejumlah eks kombatan GAM lainnya. Mereka dengan khidmat menyambut kepulangan terakhir rekan seperjuangan yang telah wafat dua hari lalu.

Bang Jack menyampaikan bahwa Adam Malik bin Nurdin menghembuskan napas terakhir pada 15 Oktober 2025 pukul 04.30 WIB di RS Harapan Kita, Jakarta. “Jenazah almarhum dipulangkan ke Aceh, tepatnya ke Ceurih Blang Mee, Kecamatan Delima, Pidie, untuk dimakamkan,” ujarnya.

Pihak KPA Pusat menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian almarhum.
“Kami berdoa semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” tutur Bang Jack.

Adam Malik dikenal sebagai salah satu alumni Tripoli Libya, tempat di mana ratusan anggota GAM menjalani pelatihan militer pada awal tahun 1980-an di bawah dukungan Pemimpin Libya, Muammar Khadafi. Kala itu, sekitar 400 hingga 600 anggota GAM dikirim ke berbagai kamp pelatihan seperti Tajura di Tripoli, Sabha di selatan Libya, serta Sirte dan Al-Jufra di wilayah tengah.

Pelatihan tersebut berlangsung dalam kerangka dukungan Khadafi terhadap gerakan kemerdekaan dunia ketiga melalui World Revolutionary Center (WRC). Materi yang diberikan mencakup strategi perang gerilya, intelijen, hingga penggunaan senjata berat.

Para alumni Libya kemudian kembali ke Aceh dan menjadi tulang punggung kekuatan militer GAM pada dekade 1980–1990-an, memainkan peran penting dalam memperkuat struktur dan kemampuan tempur gerakan tersebut.

“Meski hubungan itu berakhir seiring perubahan politik di Libya, pengalaman pelatihan di sana tetap menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan GAM sebelum lahirnya perdamaian Helsinki tahun 2005,” tambah Bang Jack.[]

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

DWP UIN Ar-Raniry Salurkan Rp50 Juta untuk Korban Bencana di Sawang Aceh Utara

7 Februari 2026 - 23:47 WIB

Menkomdigi Ajak Pers Jaga Kualitas

7 Februari 2026 - 05:40 WIB

Kemkomdigi Buka Akses 8.000 Akun Canva Pro untuk UMKM dan Talenta Kreatif

7 Februari 2026 - 05:35 WIB

6 Proyek Rp 110 Triliun Danantara Mulai Dibangun, Ini Daftarnya

7 Februari 2026 - 05:12 WIB

Kejati Aceh Amankan Buronan Kasus Pemerkosaan Anak

6 Februari 2026 - 17:42 WIB

Trending di News