Menu ✖

Mode Gelap
Polri Tetapkan Listyo Sigit, Ahrie Sonta, Eko Hadi Tersangka Penyadapan Presiden UIN Ar-Raniry dan Pijar Foundation Jalin Kerja Sama Perkuat Akses Pendidikan bagi Mahasiswa Disabilitas Rektor UIN Ar-Raniry Lepas 19 Anggota Kontingen OASE PTKIN 2026 Proyek Interior Banda Aceh Academy Rp1,5 Miliar Dimenangkan CV Nuansa Indah Persib Tebar Tekanan ke Persija di Puncak Klasemen Pria 59 Tahun Diduga Cabuli Dua Anak di Banda Aceh, Ditangkap di TPI Lampulo

Pemerintahan

Data Desil Jadi Sumber Salah Paham, BPS Diminta Bergerak Cepat

badge-check


					Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza dalam Kunjungan Kerja Panja RUU tentang Statistik Komisi X DPR RI ke Kantor BPS Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (17/9/2026). Foto: Alya/Karisma Perbesar

Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza dalam Kunjungan Kerja Panja RUU tentang Statistik Komisi X DPR RI ke Kantor BPS Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (17/9/2026). Foto: Alya/Karisma

Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza mendorong penguatan koordinasi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) hingga pemerintah daerah untuk meluruskan pemahaman masyarakat mengenai data desil.

Menurut Rycko, desil merupakan instrumen untuk memilah tingkat kesejahteraan masyarakat, bukan satu-satunya dasar dalam menentukan penerima bantuan sosial maupun bantuan pendidikan.

Hal itu disampaikan Rycko saat Komisi X DPR RI melakukan kunjungan kerja Panja Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Statistik ke Kantor BPS Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (17/9/2026).

Kunjungan tersebut antara lain membahas efektivitas pemanfaatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), termasuk persoalan pemahaman masyarakat terhadap status desil.

Rycko mengatakan BPS memiliki tugas menyediakan data statistik sebagai dasar pemerintah dalam merumuskan kebijakan. Namun, masih ada anggapan di masyarakat bahwa BPS merupakan lembaga yang menentukan langsung penerima berbagai program bantuan.

Padahal, kata dia, pelaksanaan program bantuan berada pada kementerian atau lembaga masing-masing. Program Keluarga Harapan (PKH), misalnya, berada di bawah Kementerian Sosial, sedangkan Program Indonesia Pintar (PIP) dan KIP-Kuliah merupakan program di sektor pendidikan.

“Jadi tentu yang pertama perlu kita tegaskan, desil ini bukan satu-satunya alat ukur, terutama dalam hal pemberian bantuan kepada masyarakat, baik itu bantuan dari pendidikan, kesehatan maupun yang lainnya,” ujar Rycko.

Ia menjelaskan, desil merupakan salah satu instrumen untuk mengelompokkan tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan data yang tersedia.

Karena itu, Rycko meminta Kepala BPS memperkuat koordinasi dengan Kemendagri. Menurutnya, Kemendagri memiliki posisi strategis untuk mengoordinasikan pemerintah daerah sehingga informasi mengenai fungsi dan pemanfaatan data desil dapat diteruskan hingga tingkat desa dan kelurahan.

“Ini perlu langkah cepat dan tegas dari Kepala BPS. Selain koordinasi antarlembaga kementerian, yang paling penting ini Kementerian Dalam Negeri, karena di bawahnya mengoordinasikan gubernur, bupati, wali kota, supaya bisa menyampaikan ke struktur yang ada di tingkatan bawah, sehingga masyarakat paham,” tegasnya.

Rycko menilai pemahaman tersebut penting untuk mencegah kesalahpahaman ketika posisi desil masyarakat berubah dalam proses pemutakhiran data.

Dalam pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, Komisi X juga memberi perhatian terhadap akurasi dan kecepatan pemutakhiran data, khususnya yang berkaitan dengan sektor pendidikan.

Rycko mengatakan kualitas data perlu terus diperbaiki agar program pendidikan seperti PIP dapat menyasar masyarakat yang memenuhi kriteria penerima.

“Jangan sampai orang-orang yang justru berhak mendapatkan bantuan pemerintah, khususnya di Komisi X kita concern dengan masalah pendidikan, malah tidak dapat. Sebaliknya, orang yang sudah kategori mampu justru malah dapat,” ungkapnya.

Ia berharap pemutakhiran data dapat merespons perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga warga yang memenuhi kriteria penerima PIP tidak kehilangan hak hanya karena data yang digunakan belum mencerminkan kondisi terkini.

“Segera masyarakat yang memang selama ini berhak mendapatkan PIP, jangan sampai mereka seolah-olah dapat desil yang tinggi. Sekarang ini tetap bisa dilakukan penyesuaian,” pungkas Rycko.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dek Fadh Bersama Wakil Ketua KPK Serahkan Penghargaan Desa Antikorupsi kepada 15 Gampong di Aceh

21 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Dek Fadh Minta Kerja Sama Pemkab agar Pembangunan Huntap Tuntas pada 2027

20 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Pj Sekda Aceh Ajak IKNR Perkuat Persatuan dan Berkontribusi bagi Pembangunan Daerah

18 Oktober 2026 - 20:54 WIB

Wali Kota Sabang Ajak Masyarakat Bangga dan Gunakan Produk UMKM Lokal

17 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Kabut Asap Mulai Selimuti Banda Aceh, Warga Diminta Waspada

16 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Trending di Pemerintahan