Menu

Mode Gelap
Pemerintah Aceh Angkat 228 Pegawai Negeri Sipil Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030 Peringati Hari Didong, Ketua KNA Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya Gayo Pemerintah Aceh Jelaskan Posisi Bantuan Kementan untuk Pemulihan Sawah dan Kebun Tak Sekadar Salurkan Pembiayaan, BSI Bangun Ekosistem UMKM Nasional Bersama Danantara Dirut SIG Turun ke Aceh, Pastikan Pasokan Semen Kembali Stabil

Politik

DPRK Dorong Alue Naga Jadi Sentra Tiram Unggulan, Potensi Besar Dongkrak Ekonomi Pesisir

badge-check


					‎Sekretaris Fraksi NasDem DPRK Banda Aceh, Hj. Efiaty Z, A.Md Perbesar

‎Sekretaris Fraksi NasDem DPRK Banda Aceh, Hj. Efiaty Z, A.Md

‎BANDA ACEH – Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, kian dilirik sebagai kawasan potensial pengembangan budidaya tiram yang menjanjikan dan berdaya saing tinggi.

‎Didukung kondisi geografis pesisir dengan aliran sungai serta perairan yang tenang dan kaya nutrisi, wilayah ini dinilai sangat ideal untuk pengembangan komoditas tiram secara berkelanjutan.

‎Sekretaris Fraksi NasDem DPRK Banda Aceh, Hj. Efiaty Z, A.Md, menyatakan bahwa budidaya tiram di Alue Naga bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa, melainkan telah menjadi tulang punggung penghasilan masyarakat pesisir.

‎“Budidaya tiram di Alue Naga sudah terbukti mampu menopang ekonomi warga. Selain mudah dikembangkan, nilai jualnya juga cukup tinggi dan terus diminati pasar,” ujar Efiaty, Selasa, (14/4).

‎Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat setempat telah mengembangkan budidaya tiram secara tradisional dengan hasil yang kian meningkat. Tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, produk tiram dari kawasan ini juga mulai merambah pasar yang lebih luas.

‎Menurutnya, faktor lingkungan menjadi keunggulan utama Alue Naga. Perairan yang relatif tenang dan kaya akan nutrisi alami membuat pertumbuhan tiram lebih optimal dan berkualitas.

‎“Lingkungan perairan di sini sangat mendukung. Ini menjadi kekuatan utama yang tidak dimiliki semua daerah,” jelas politisi NasDem tersebut.

‎Lebih lanjut, ia menekankan bahwa budidaya tiram juga tergolong ramah lingkungan. Prosesnya tidak membutuhkan pakan tambahan maupun bahan kimia, sehingga tetap menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

‎“Ini adalah komoditas yang berkelanjutan dan sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan,” tambahnya.

‎Potensi tersebut semakin diperkuat dengan adanya dukungan fasilitas pengolahan hasil laut yang telah dibangun pemerintah. Dengan pengelolaan yang lebih modern, tiram Alue Naga memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui berbagai produk olahan, mulai dari tiram segar kemasan hingga kuliner berbasis seafood.

‎Tak hanya berdampak pada sektor ekonomi, budidaya tiram juga membuka peluang pengembangan wisata edukasi dan kuliner. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses budidaya hingga menikmati hasil panen di lokasi, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

‎Efiaty menilai, dengan pengelolaan yang serius, dukungan pelatihan, serta akses pasar yang lebih luas, Alue Naga berpotensi besar menjadi sentra budidaya tiram unggulan di Banda Aceh.

‎“Jika dikembangkan secara terpadu, ini bukan hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga bisa menjadikan Alue Naga sebagai ikon ekonomi pesisir Kota Banda Aceh,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dewan Terima Dokumen R-KUA-PPAS APBK Banda Aceh 2027 dari Eksekutif

4 Agustus 2026 - 09:08 WIB

Dua Dekade MoU Helsinki, Implementasi Kewenangan Aceh Masih Jadi Tantangan

30 Juli 2026 - 17:09 WIB

Lembaga Wali Nanggroe Gandeng Akademisi UTU Perkuat Implementasi MoU Helsinki

29 Juli 2026 - 17:42 WIB

20-an Anak di Deah Raya Belum Kebagian Sekolah, Ketua DPRK Minta Disdikbud Segera Mencarikan Sekolah

28 Juli 2026 - 13:26 WIB

Jangan Biarkan Tambang Aceh Dikuasai Luar

26 Juli 2026 - 12:39 WIB

Trending di Politik