Menu

Mode Gelap
Pemerintah Aceh Percepat Kegiatan Tambahan TKD untuk Pemulihan Pasca Bencana Hidrometeorologi Wagub Aceh Perkuat Silaturahmi dengan Ulama dan Dayah di Aceh Selatan Persiraja Gelar Latihan Perdana 1 Agustus 2026 Pemerintah Aceh Raih Tiga Penghargaan pada Forum Pemred Multimedia Award 2026 Ketua DPRK Jamu Anak Yatim Bersama Partner Berbagi Terungkap! Pelaku Curas Toko Emas Tapaktuan Ternyata Oknum Polisi

News

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

badge-check


					Anggota tim dari Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta menggunakan teleskop untuk mengamati hilal di Masjid Hasyim Asyari, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Perbesar

Anggota tim dari Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta menggunakan teleskop untuk mengamati hilal di Masjid Hasyim Asyari, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diumumkan dalam konferensi pers usai sidang isbat di Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Penetapan awal Ramadan didasarkan pada pemaparan data hisab serta laporan rukyat dari 96 titik pemantauan di seluruh Indonesia. Secara astronomis, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk sehingga belum memenuhi kriteria visibilitas hilal.

Data hisab menunjukkan ketinggian hilal berada pada rentang -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°). Sementara itu, elongasi hilal tercatat antara 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°). Posisi tersebut belum memenuhi kriteria imkanur rukyat yang disepakati negara anggota MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Dengan tidak terpenuhinya kriteria tersebut serta tidak adanya laporan rukyat yang berhasil melihat hilal, pemerintah menetapkan awal Ramadan 1447 H dimulai pada 19 Februari 2026.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan harapannya agar keputusan ini menjadi momentum kebersamaan umat Islam dalam menyambut bulan suci. Ia juga mengajak masyarakat menjaga kerukunan apabila terdapat perbedaan dalam memulai puasa.

“Apabila umat Islam ada yang memulai puasa berbeda, tolong jaga kerukunan. Indonesia memiliki keberagaman yang indah. Jika ada perbedaan, mari kita terima sebagai kekayaan khazanah keberagaman Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Anwar Iskandar, menekankan pentingnya persatuan umat di tengah perbedaan yang bersifat teknis. “Perbedaan itu sifatnya teknis, bisa kita pahami dan maklumi. Tetapi yang paling penting adalah keutuhan sebagai umat Islam,” kata Anwar.

Ia menegaskan perbedaan dalam penentuan awal puasa tidak boleh menjadi sumber perpecahan selama tidak menyentuh persoalan akidah.

Menurutnya, keberagaman justru dapat menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan nasional dan stabilitas sosial.

Dengan penetapan ini, umat Islam di Indonesia diharapkan dapat menyambut Ramadan 1447 H dengan kesiapan spiritual serta menjaga persaudaraan dan persatuan di tengah keberagaman.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ketua DPRK Jamu Anak Yatim Bersama Partner Berbagi

19 Juli 2026 - 14:34 WIB

Terungkap! Pelaku Curas Toko Emas Tapaktuan Ternyata Oknum Polisi

19 Juli 2026 - 14:26 WIB

Wali Nanggroe Usulkan Aceh Jadi Pilot Project Pengadilan Niaga Syariah Nasional

18 Juli 2026 - 21:12 WIB

TTI: Jangan Cuma Peringatan! Bongkar Tambang Ilegal hingga Otak di Baliknya

17 Juli 2026 - 08:20 WIB

Prodi Teknologi Informasi Paling Diminati pada PMB Reguler SSE UIN Ar-Raniry 2026

15 Juli 2026 - 22:34 WIB

Trending di News