Menu

Mode Gelap
Pemerintah Aceh Siapkan Revisi PoD Blok Andaman BINUS Medan Dorong Inovasi Human-Centered dalam Semangat Global Digitalpreneur Sekda Aceh: Suara Anak Penting untuk Pembangunan Aceh Kedepan Prof Jimly Semprot PTUN Soal Disertasi Bahlil: Hakim Ketinggalan Zaman, Rusak Etika UI! Polda Metro Jaya Jadwalkan Pelimpahan Roy Suryo dan Dokter Tifa ke Kejaksaan Pekan Depan Karo AUPK UIN Ar-Raniry Lantik 19 Pejabat Fungsional, Dorong Inovasi dan Transformasi Digital

Politik

Regenerasi Jadi Taruhan Terakhir Demokrat Aceh

badge-check


					ILUSTRASI Perbesar

ILUSTRASI

BANDA ACEH – Partai Demokrat Aceh berada di titik paling rawan dalam sejarahnya.

Pemilihan Ketua DPD kini bukan soal senioritas, melainkan penentuan hidup-mati partai di tengah dominasi partai lokal.

Peneliti e-TRUST, Indra Azwal, SIP., menilai Demokrat terancam kehilangan relevansi jika kembali mengulang pola lama yang terbukti gagal.

“Demokrat Aceh tidak sedang baik-baik saja. Salah memilih ketua berarti mempercepat kemunduran permanen,” tegas Indra, Senin (2/2/2026).

Ia mengingatkan romantisme figur lama sebagai jebakan. Nova Iriansyah dinilai membawa beban politik berat, dengan fakta ditinggalkan mayoritas DPC pada Musda 2021 meski saat itu menjabat Gubernur Aceh.

“Jika di puncak kekuasaan saja tidak dipercaya, bagaimana mungkin menjadi solusi kebangkitan?” ujarnya.

Indra juga menyoroti risiko masuknya figur eksternal seperti Illiza Sa’aduddin Djamal yang berpotensi membajak struktur partai.

“Ini soal risiko Demokrat dijadikan kendaraan politik pribadi. Jika struktur dikuasai gerbong luar, konflik internal tak terelakkan,” katanya.

Sementara HT Ibrahim (Bram) dinilai loyal namun minim daya dobrak. “Loyalitas tanpa kemampuan komunikasi lintas partai hanya akan mengurung Demokrat dalam isolasi,” tambahnya.

Dalam kondisi stagnan, Nurdiansyah Alasta disebut sebagai opsi paling rasional.

Ketua Komisi IV DPRA itu dinilai diterima lintas fraksi, mampu berdialog dengan partai lokal, dan tidak tersandera kepentingan lama.

“Isu terlalu muda hanyalah dalih mempertahankan status quo. Justru wajah lama gagal membaca perubahan,” tegas Indra.

Ia menutup dengan peringatan keras: jika Demokrat Aceh kembali memilih nostalgia atau membiarkan pembajakan kepentingan, maka regenerasi bukan lagi pilihan—melainkan jalan terakhir.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PDIP: Urus Saja Persoalan Listrik Mati, Jangan Nyinyir!

20 Juni 2026 - 12:50 WIB

Aceh Singkil–Subulussalam Dinilai Layak Jadi Satu Dapil DPRA

17 Juni 2026 - 13:26 WIB

Ketua DPRK Banda Aceh Bersama NU Dukung Penegakan Syariat Islam oleh Walikota

7 Juni 2026 - 23:20 WIB

Istana Buka Suara Isu Purbaya Mundur dari Menteri Keuangan

5 Juni 2026 - 00:54 WIB

PBA Sebut Elit Aceh Sibuk Kejar Kekayaan

3 Juni 2026 - 13:45 WIB

Trending di Politik