Menu ✖

Mode Gelap
PC PERTI Aceh Besar: Beut Kitab Bak Sikula Sah Secara Hukum, Jangan Giring Opini Sesat Persib Bidik Tiket 16 Besar ACL 2 di Kandang Melbourne Victory Polri Tetapkan Listyo Sigit, Ahrie Sonta, Eko Hadi Tersangka Penyadapan Presiden UIN Ar-Raniry dan Pijar Foundation Jalin Kerja Sama Perkuat Akses Pendidikan bagi Mahasiswa Disabilitas Rektor UIN Ar-Raniry Lepas 19 Anggota Kontingen OASE PTKIN 2026 Proyek Interior Banda Aceh Academy Rp1,5 Miliar Dimenangkan CV Nuansa Indah

Politik

Regenerasi Jadi Taruhan Terakhir Demokrat Aceh

badge-check


					ILUSTRASI Perbesar

ILUSTRASI

BANDA ACEH – Partai Demokrat Aceh berada di titik paling rawan dalam sejarahnya.

Pemilihan Ketua DPD kini bukan soal senioritas, melainkan penentuan hidup-mati partai di tengah dominasi partai lokal.

Peneliti e-TRUST, Indra Azwal, SIP., menilai Demokrat terancam kehilangan relevansi jika kembali mengulang pola lama yang terbukti gagal.

“Demokrat Aceh tidak sedang baik-baik saja. Salah memilih ketua berarti mempercepat kemunduran permanen,” tegas Indra, Senin (2/2/2026).

Ia mengingatkan romantisme figur lama sebagai jebakan. Nova Iriansyah dinilai membawa beban politik berat, dengan fakta ditinggalkan mayoritas DPC pada Musda 2021 meski saat itu menjabat Gubernur Aceh.

“Jika di puncak kekuasaan saja tidak dipercaya, bagaimana mungkin menjadi solusi kebangkitan?” ujarnya.

Indra juga menyoroti risiko masuknya figur eksternal seperti Illiza Sa’aduddin Djamal yang berpotensi membajak struktur partai.

“Ini soal risiko Demokrat dijadikan kendaraan politik pribadi. Jika struktur dikuasai gerbong luar, konflik internal tak terelakkan,” katanya.

Sementara HT Ibrahim (Bram) dinilai loyal namun minim daya dobrak. “Loyalitas tanpa kemampuan komunikasi lintas partai hanya akan mengurung Demokrat dalam isolasi,” tambahnya.

Dalam kondisi stagnan, Nurdiansyah Alasta disebut sebagai opsi paling rasional.

Ketua Komisi IV DPRA itu dinilai diterima lintas fraksi, mampu berdialog dengan partai lokal, dan tidak tersandera kepentingan lama.

“Isu terlalu muda hanyalah dalih mempertahankan status quo. Justru wajah lama gagal membaca perubahan,” tegas Indra.

Ia menutup dengan peringatan keras: jika Demokrat Aceh kembali memilih nostalgia atau membiarkan pembajakan kepentingan, maka regenerasi bukan lagi pilihan—melainkan jalan terakhir.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Komisi III DPR Dorong Aset Pelaku Kejahatan Keuangan Dikembalikan kepada Korban

31 Oktober 2026 - 17:30 WIB

DPR Desak OJK Relaksasi Kredit UMKM Terdampak Bencana

30 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Dek Gam Apresiasi Polda Aceh Tangkap Penimbun Solar, Antrean di SPBU Mulai Menghilang

26 Oktober 2026 - 17:46 WIB

Jaga Adat dan Meringankan Beban Warga Gampong, Daniel A Wahab Bantu Perangkat Pelaminan untuk Alue Deah Teungoh

22 Oktober 2026 - 19:12 WIB

DPR Minta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Perkuat Koordinasi

20 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Trending di Politik