Menu

Mode Gelap
Pengabdian Zaini Abdullah Akan Selalu Menjadi Bagian dari Sejarah Aceh Mahasiswa Korea Selatan Lulus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Teliti Konsumsi Produk Korea di Aceh Vonis Noel Tamparan Keras bagi Birokrat Doyan Main Proyek Sekda Aceh Hadiri Munas PB IKASI 2026, Agus Suparmanto Kembali Terpilih sebagai Ketua Umum Parah! Dua Lurah Pesta Miras dan Open BO di Kantor Kelurahan Lulus 3,5 Tahun Lewat Publikasi Ilmiah, Urwatil Wusqa Jadi Lulusan Terbaik FAH UIN Ar-Raniry

Politik

PBA Sebut Elit Aceh Sibuk Kejar Kekayaan

badge-check


					Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), Subki Mohammad Bintang Perbesar

Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), Subki Mohammad Bintang

BANDA ACEH — Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), Subki Mohammad Bintang, mengingatkan bahwa Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia pada 15 Agustus 2005 merupakan tonggak penting sejarah yang tidak boleh dilupakan.

Menurutnya, perjanjian damai tersebut bukanlah akhir dari perjuangan rakyat Aceh, melainkan perubahan strategi dari konflik bersenjata ke jalur politik yang sah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), demi memperjuangkan hak asal-usul dan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Namun, Subki menilai bahwa arah perjuangan tersebut kini mengalami penyimpangan. Ia menyebut, perjuangan politik yang semestinya berorientasi pada kepentingan rakyat telah bergeser menjadi alat untuk mengejar keuntungan kelompok, golongan, hingga kepentingan pribadi.

“Mereka yang dulu mengaku sebagai pejuang, kini lupa siapa yang menjadi benteng terakhir di masa sulit. Rakyat yang telah berkorban nyawa dan harta justru ditinggalkan, sementara para pemimpin sibuk mengumpulkan kekayaan dan menunjukkan kekuasaan,” ujar Subki, Rabu 3 Juni 2026.

Ia menilai, semangat awal perdamaian telah tergerus oleh praktik keserakahan. Perjuangan politik yang seharusnya menjaga amanat MoU Helsinki dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) demi kesejahteraan bersama, kini berubah menjadi ajang perebutan akses ekonomi.

“Kekayaan alam Aceh seperti minyak, gas, dan hasil bumi lainnya seharusnya dinikmati oleh seluruh rakyat. Namun kenyataannya, hanya segelintir pihak yang merasakan manfaat, sementara masyarakat masih hidup dalam keterbatasan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap sejarah perjuangan,” tegasnya.

PBA menegaskan bahwa perjuangan belum selesai. Mereka mendorong agar jalur politik dikembalikan ke tujuan awal, yakni membela hak rakyat, menjaga kewenangan daerah, serta memastikan pengelolaan sumber daya alam Aceh dilakukan secara adil dan merata.

“Kami mengingatkan bahwa gelar pejuang tidak diukur dari harta, melainkan dari pengabdian tanpa pamrih kepada rakyat. Jangan sampai perdamaian hanya menjadi jalan bagi segelintir orang untuk menjadi kaya, sementara rakyat tetap menderita,” pungkas Subki.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ketua DPRK Banda Aceh Bersama NU Dukung Penegakan Syariat Islam oleh Walikota

7 Juni 2026 - 23:20 WIB

Istana Buka Suara Isu Purbaya Mundur dari Menteri Keuangan

5 Juni 2026 - 00:54 WIB

Banda Aceh Harus Jadi ‘Kiblat’ Syariat Islam di Aceh

2 Juni 2026 - 08:41 WIB

DPRA Desak Pemerintah Aceh Percepat Pemulihan Pascabencana

21 Mei 2026 - 16:04 WIB

Ketua Komisi IV DPRA Apresiasi Mualem Cabut Pergub JKA

21 Mei 2026 - 15:45 WIB

Trending di Politik