Menu

Mode Gelap
Kenji Nishioka Dipanggil Timnas Filipina, Kalteng FC Bawa Nama ke Panggung ASEAN Rekaman CCTV Diduga Bocor, Bank Aceh Diadukan ke OJK dan BI Garuda dan SMSI Aceh Besar Membahas Masa Depan Konektivitas Aceh Pascasarjana UIN Ar-Raniry Yudisium 152 Alumni Baru DPR Soroti 10 Ribu Desa Belum Terlayani Internet, Minta Pemerataan 3T Dipercepat Komisi VII Dorong Petani dan Industri Terhubung Langsung ke Pasar

Uncategorized

Mualem Cerita ke Hasyim Djojohadikusumo: Aceh Butuh Rice Mill Sendiri, Pabrik Tuna, dan Reaktivasi Pabrik Kertas

badge-check


					Keterangan Foto: Gubernur Aceh, Muzakir Manaf didampingi oleh ketua DPRA Zulfadli, A.Md saat bertemu Pengusaha Hasyim Djojohadikusumo yang juga adik Presiden RI, Prabowo Subianto di Aula Arsari Group, Jakarta Pusat, Jumat, 11 April 2025. (Foto: Humas BPPA) Perbesar

Keterangan Foto: Gubernur Aceh, Muzakir Manaf didampingi oleh ketua DPRA Zulfadli, A.Md saat bertemu Pengusaha Hasyim Djojohadikusumo yang juga adik Presiden RI, Prabowo Subianto di Aula Arsari Group, Jakarta Pusat, Jumat, 11 April 2025. (Foto: Humas BPPA)

JAKARTA – Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi Aceh kepada pengusaha nasional Hasyim Djojohadikusumo dalam pertemuan yang berlangsung di Aula Arsari Group, Jakarta Pusat, Jumat, 11 April 2025.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur yang akrab disapa Mualem itu mendiskusikan pentingnya pembangunan fasilitas penggilingan gabah (rice mill) di Aceh untuk menekan biaya distribusi dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Selama ini, gabah dari Aceh dikirim ke Medan untuk digiling, kemudian kembali ke Aceh dalam bentuk beras. Ini menyebabkan harga beras menjadi mahal dan petani kita tidak menikmati keuntungan secara optimal,” ujar Mualem.

Mualem menegaskan bahwa Pemerintah Aceh sangat terbuka terhadap investasi yang berdampak langsung pada masyarakat. Dalam forum itu, ia juga menyampaikan peluang besar lainnya di sektor perikanan, yaitu pembangunan pabrik pengalengan ikan tuna untuk menyerap tenaga kerja lokal, serta pentingnya reaktivasi Pabrik Kertas Aceh yang sudah lama tidak beroperasi.

Tak kalah penting, Gubernur juga meminta agar lahan ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) yang masih berada di bawah wewenang pemerintah pusat dapat diserahkan kepada Pemerintah Aceh untuk dimanfaatkan secara maksimal.

Menanggapi hal tersebut, Hasyim Djojohadikusumo memberikan respons positif. Ia menawarkan teknologi rice mill mini yang dapat diterapkan secara cepat dan efisien di daerah-daerah sentra pertanian di Aceh.

“Saya akan bantu hadirkan rice mill mini ke Aceh dan segera menghubungi para investor untuk melihat langsung potensi yang ada,” ujar Hasyim.

Hasyim menambahkan, teknologi penggilingan padi mini yang dikembangkan bersama mitra teknologi seperti Siki Shor dan Akiva telah terbukti fleksibel dan cocok diterapkan di berbagai wilayah, khususnya daerah terpencil atau yang jauh dari fasilitas penggilingan besar.

Pertemuan ini turut dihadiri oleh Ketua DPR Aceh, Zulfadli; Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun; dan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Iskandar Zulkarnaen.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BPKS juga memaparkan potensi Sabang sebagai pelabuhan bebas dan hub logistik kawasan, dengan panjang dermaga 430 meter dan kedalaman 22 hingga 26 meter.

“Sabang telah ditetapkan sebagai pelabuhan bebas sejak 25 tahun lalu. Kini saatnya kita optimalkan sebagai pintu gerbang perdagangan regional,” ujar Iskandar. []

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Baleg DPR Soroti Warga Kehilangan Tanah, Wacanakan Pengadilan Agraria

13 September 2026 - 13:44 WIB

TVRI Rumahkan 17 Kontributor di Aceh, Empat Asosiasi Pers Layangkan Protes

12 September 2026 - 14:31 WIB

Dua Jam Tanpa Sekat, Syech Muharram Titip Pesan kepada SMSI Aceh Besar

10 September 2026 - 13:30 WIB

Kejari Banda Aceh Musnahkan Barang Bukti 61 Perkara, Termasuk Alat Kontrasepsi

28 April 2026 - 11:06 WIB

Pertamina Operasikan Kilang Maksimal 1,1 Juta Barel Jelang Lebaran

17 Maret 2026 - 11:24 WIB

Trending di Uncategorized