Menu ✖

Mode Gelap
Polri Tetapkan Listyo Sigit, Ahrie Sonta, Eko Hadi Tersangka Penyadapan Presiden UIN Ar-Raniry dan Pijar Foundation Jalin Kerja Sama Perkuat Akses Pendidikan bagi Mahasiswa Disabilitas Rektor UIN Ar-Raniry Lepas 19 Anggota Kontingen OASE PTKIN 2026 Proyek Interior Banda Aceh Academy Rp1,5 Miliar Dimenangkan CV Nuansa Indah Persib Tebar Tekanan ke Persija di Puncak Klasemen Pria 59 Tahun Diduga Cabuli Dua Anak di Banda Aceh, Ditangkap di TPI Lampulo

Politik

Pengamat: Trump Inkonsisten Soal Selat Hormuz

badge-check


					Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Getty Images) Perbesar

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Getty Images)

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Selat Hormuz dinilai tidak konsisten dan menunjukkan tekanan besar akibat risiko militer serta dampak ekonomi global.

Sikap yang berubah-ubah, mulai dari tidak peduli hingga mengeluarkan ultimatum, dinilai mencerminkan keraguan AS untuk bertindak sendiri.

Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, menyebut perubahan sikap itu terjadi karena ancaman Trump tidak direspons oleh Iran, sementara risiko keterlibatan militer dinilai terlalu tinggi.

“Ini bentuk kegalauan Trump, ternyata Iran tidak takut dengan ancaman Trump. Dan juga ini bentuk Trump juga pengecut.” ujarnya dalam keterangan daring, Senin, 23 Maret 2026.

Ia menjelaskan, awalnya AS berencana mengirim kapal perang untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun rencana itu tidak berjalan karena angkatan laut AS dinilai tidak siap menghadapi risiko konflik langsung.

“Tapi ternyata angkatan laut AS sendiri tidak berani karena resikonya sangat tinggi kalau mereka ikut mengawal itu sendiri.” katanya.

Menurut Faisal, perubahan strategi AS yang kemudian mengajak sekutu juga tidak mendapat respons kuat dari negara-negara Eropa maupun anggota NATO.

Kondisi ini diperparah dengan tekanan domestik di AS akibat potensi kenaikan harga minyak dan BBM jika Selat Hormuz tetap ditutup.

Sementara itu, muncul pernyataan bersama dari 22 negara yang menyatakan kesiapan menjaga Selat Hormuz. Namun Faisal menilai komitmen tersebut masih perlu dibuktikan di lapangan.

“Nah, kalau memang benar itu yang mereka akan lakukan, komitmen itu mereka laksanakan nanti, artinya perang akan semakin berkobar, perang akan semakin tidak terkendali, dan itu akan melibatkan banyak negara.”

Ia menegaskan, jika negara-negara tersebut benar-benar terlibat secara militer, konflik berpotensi meluas dan semakin sulit dikendalikan

Sumber: RMOL

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Komisi III DPR Dorong Aset Pelaku Kejahatan Keuangan Dikembalikan kepada Korban

31 Oktober 2026 - 17:30 WIB

DPR Desak OJK Relaksasi Kredit UMKM Terdampak Bencana

30 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Dek Gam Apresiasi Polda Aceh Tangkap Penimbun Solar, Antrean di SPBU Mulai Menghilang

26 Oktober 2026 - 17:46 WIB

Jaga Adat dan Meringankan Beban Warga Gampong, Daniel A Wahab Bantu Perangkat Pelaminan untuk Alue Deah Teungoh

22 Oktober 2026 - 19:12 WIB

DPR Minta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Perkuat Koordinasi

20 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Trending di Politik