Menu

Mode Gelap
DPR Soroti 10 Ribu Desa Belum Terlayani Internet, Minta Pemerataan 3T Dipercepat Komisi VII Dorong Petani dan Industri Terhubung Langsung ke Pasar Jean Mangabeira Siap Bawa Dewa United Amankan Tiga Poin dari PSS Lini Pertahanan Jadi Sorotan PSS Jelang Hadapi Dewa United Dewa United Bidik Tiga Poin, Osmar Loss Waspadai PSS Sleman PSIS Matangkan Transisi, WCP Pelajari Celah Semen Padang

Politik

Regenerasi Jadi Taruhan Terakhir Demokrat Aceh

badge-check


					ILUSTRASI Perbesar

ILUSTRASI

BANDA ACEH – Partai Demokrat Aceh berada di titik paling rawan dalam sejarahnya.

Pemilihan Ketua DPD kini bukan soal senioritas, melainkan penentuan hidup-mati partai di tengah dominasi partai lokal.

Peneliti e-TRUST, Indra Azwal, SIP., menilai Demokrat terancam kehilangan relevansi jika kembali mengulang pola lama yang terbukti gagal.

“Demokrat Aceh tidak sedang baik-baik saja. Salah memilih ketua berarti mempercepat kemunduran permanen,” tegas Indra, Senin (2/2/2026).

Ia mengingatkan romantisme figur lama sebagai jebakan. Nova Iriansyah dinilai membawa beban politik berat, dengan fakta ditinggalkan mayoritas DPC pada Musda 2021 meski saat itu menjabat Gubernur Aceh.

“Jika di puncak kekuasaan saja tidak dipercaya, bagaimana mungkin menjadi solusi kebangkitan?” ujarnya.

Indra juga menyoroti risiko masuknya figur eksternal seperti Illiza Sa’aduddin Djamal yang berpotensi membajak struktur partai.

“Ini soal risiko Demokrat dijadikan kendaraan politik pribadi. Jika struktur dikuasai gerbong luar, konflik internal tak terelakkan,” katanya.

Sementara HT Ibrahim (Bram) dinilai loyal namun minim daya dobrak. “Loyalitas tanpa kemampuan komunikasi lintas partai hanya akan mengurung Demokrat dalam isolasi,” tambahnya.

Dalam kondisi stagnan, Nurdiansyah Alasta disebut sebagai opsi paling rasional.

Ketua Komisi IV DPRA itu dinilai diterima lintas fraksi, mampu berdialog dengan partai lokal, dan tidak tersandera kepentingan lama.

“Isu terlalu muda hanyalah dalih mempertahankan status quo. Justru wajah lama gagal membaca perubahan,” tegas Indra.

Ia menutup dengan peringatan keras: jika Demokrat Aceh kembali memilih nostalgia atau membiarkan pembajakan kepentingan, maka regenerasi bukan lagi pilihan—melainkan jalan terakhir.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Komisi VIII Dorong Penguatan Layanan Haji di Daerah

18 September 2026 - 13:32 WIB

DPRK Terima Raqan Perubahan APBK Banda Aceh 2026, Belanja Naik 19,67 Persen

14 September 2026 - 22:31 WIB

Tgk Muharuddin Raih SMSI Aceh Award 2026, Dinilai Responsif Perjuangkan Kepentingan Aceh

6 September 2026 - 21:23 WIB

Terima Kunjungan PLN, Ketua DPRK Banda Aceh Minta Antisipasi Krisis Listrik Saat Bencana

4 September 2026 - 23:25 WIB

Komisi III DPR Kawal UU Perampasan Aset agar Tak Jadi Alat Kekuasaan

31 Agustus 2026 - 14:02 WIB

Trending di Politik