Menu

Mode Gelap
Wagub Aceh silaturahmi ke Dayah Abu Paya Pasi, perkuat sinergi pemerintah dan ulama SAPA Gugat Bappeda Aceh ke KIA, Dokumen Pokir DPRA Tak Diberikan Read Aloud Anak Banda Aceh dan RUMAN Aceh Meriahkan HAN 2026 di Blang Padang Terima Audiensi LLDIKTI, Wagub Fadhlullah Dorong Penguatan SDM dan Kolaborasi dengan PTS Wagub Aceh Ikuti Rapat Percepatan Pembangunan Huntap Korban Bencana Kabupaten Pertama Gelar Rakor, Kak Na Apresiasi Pembina Posyandu Pidie

Politik

SAPA Kritik Penunjukan Anak Gubernur Aceh Jadi Komisaris PGE

badge-check


					Ketua SAPA, Fauzan Adami, Perbesar

Ketua SAPA, Fauzan Adami,

Banda Aceh – Serikat Aksi Peduli Aceh (SAPA) menyampaikan kritik tegas terhadap kebijakan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang menunjuk putranya sebagai Komisaris Utama pada BUMD Aceh, PT Pema Global Energi (PGE).

Penunjukan tersebut dilakukan melalui keputusan sirkuler dalam restrukturisasi manajemen, tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terbuka. Hal ini menimbulkan sorotan publik, terutama terkait transparansi dan etika dalam pengelolaan perusahaan daerah.

Ketua SAPA, Fauzan Adami, mengatakan bahwa persoalan ini tidak cukup dilihat dari sisi aturan saja, tetapi juga harus dilihat dari sisi kepatutan dan logika publik.

“Bisa saja secara aturan dibenarkan, tetapi secara logika dan kepantasan, ini sulit diterima. Apalagi jika melihat usia dan pengalaman yang dinilai belum cukup untuk memegang jabatan penting seperti itu,” ujar Fauzan. Minggu (29/3/2026).

Ia menambahkan, Aceh tidak kekurangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, rekam jejak, serta kapasitas profesional untuk mengisi jabatan penting di lingkungan BUMD.

“Masih banyak SDM Aceh yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang mumpuni. Jabatan strategis semestinya diisi oleh figur profesional melalui proses yang objektif, bukan karena kedekatan atau relasi kekeluargaan,” tegasnya.

SAPA menilai, kebijakan ini berpotensi menjadi preseden buruk apabila tidak disikapi secara serius. Dalam jangka panjang, praktik semacam ini dikhawatirkan akan membuka ruang bagi pola pengelolaan BUMD yang tidak sehat.

“Ini sangat berbahaya dan bisa meninggalkan catatan sejarah yang tidak baik bagi Aceh. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin ke depan setiap gubernur akan menempatkan anggota keluarganya di BUMD. Hal ini berpotensi merusak sistem dan mencederai kepercayaan publik,” lanjutnya.

Lebih jauh, SAPA menekankan pentingnya penerapan prinsip good corporate governance (GCG) dalam pengelolaan BUMD. Perusahaan daerah merupakan aset publik yang harus dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel bukan sebagai ruang kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

SAPA meminta agar keputusan tersebut ditinjau kembali karena memicu keresahan di tengah masyarakat, khususnya bagi kelompok ekonomi lemah yang merasa peluang bagi generasi mereka untuk bersaing secara adil semakin tertutup.

“Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius bahwa akses terhadap jabatan publik tidak lagi berpijak pada kapasitas dan kompetensi, melainkan dipengaruhi oleh kedekatan dengan kekuasaan. Jika terus dibiarkan, praktik seperti ini berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik dan mencederai rasa keadilan di tengah masyarakat,” pinta Fauzan.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Komisi III DPRK Banda Aceh Tinjau Gedung BAA

14 Juli 2026 - 20:20 WIB

Lembaga Wali Nanggroe dan Unsam Perkuat Kolaborasi Akademik Evaluasi MoU Helsinki

14 Juli 2026 - 20:16 WIB

Wali Kota Serahkan LKPJ 2025 ke DPRK, Irwansyah: Jangan Sekadar Cek Angka, Lihat Dampaknya ke Rakyat

13 Juli 2026 - 22:40 WIB

Akademisi Minta Bahlil Tak Atur Aceh

13 Juli 2026 - 22:35 WIB

Surati Kementerian ESDM, Wakil Ketua DPRK Dorong Kemandirian Listrik Banda Aceh

10 Juli 2026 - 22:40 WIB

Trending di Politik