Menu

Mode Gelap
Jangan Biarkan Tambang Aceh Dikuasai Luar Komisi I DPRA Dorong Pemkab dan DPRK Aceh Timur Proaktif Selesaikan Sengketa Lahan HGU DPRK Minta Pemko Tindak Tegas Pelanggaran GSB dan Tata Kabel Provider Seluruh Fraksi DPRK Setujui Raqan Pertanggungjawaban APBK Banda Aceh 2025 Fraksi PKS Ungkap Catatan Kritis terhadap Pertanggungjawaban APBK 2025 Fraksi PAN Sorot Tata Kelola Perparkiran di Kota Banda Aceh

News

Gagal Stabilkan Harga Pangan, Zulhas dan Budi Santoso Layak Dicopot

badge-check


					Gagal Stabilkan Harga Pangan, Zulhas dan Budi Santoso Layak Dicopot Perbesar

Harga kebutuhan pokok yang terus melambung tinggi pada awal pekan membuat kinerja Menko Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Perdagangan Budi Santoso menuai hujatan publik.

Ketua Umum Gerakan Muda (Gema) Nasional, Eko Saputra menilai Zulhas dan Budi Santoso gagal menjaga stabilitas harga pangan. Hal itu menjadi persoalan serius karena menyangkut langsung kebutuhan dasar jutaan rakyat Indonesia.

“Jika persoalan ini terus dibiarkan, maka kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintahan Presiden Prabowo dalam mengelola sektor pangan akan semakin menurun,” kata Eko dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Lanjut dia, sektor pangan terus menjadi program prioritas Presiden Prabowo. Akibatnya, kenaikan harga pangan saat ini sama saja mencoreng muka Prabowo di mata rakyat.

“Kami menilai sudah saatnya Presiden Prabowo melakukan evaluasi total terhadap jajaran yang menangani sektor pangan. Jangan sampai rakyat menjadi korban dari kebijakan yang tidak efektif dan lemahnya pengawasan terhadap tata niaga pangan nasional,” jelas Eko.

Pihaknya pun mendesak Presiden Prabowo untuk segera mengambil langkah tegas dengan mencopot Menko Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Perdagangan Budi Santoso apabila dalam waktu dekat tidak mampu menunjukkan perbaikan nyata terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok.

“Jabatan publik bukanlah hak istimewa yang harus dipertahankan dengan segala cara. Jabatan adalah amanah. Ketika rakyat terus menjerit akibat mahalnya harga pangan, sementara pejabat yang bertanggung jawab gagal menghadirkan solusi yang dirasakan langsung oleh masyarakat, maka pergantian pejabat menjadi langkah yang wajar dan diperlukan,” ungkapnya.

Eko menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pemerintah bukanlah banyaknya konferensi pers, rapat koordinasi, atau klaim keberhasilan di atas kertas, melainkan kemampuan menghadirkan harga pangan yang terjangkau bagi rakyat.

“Jika harga pangan terus melambung dan rakyat terus mengeluh, maka yang harus dievaluasi bukan rakyatnya, melainkan pejabat yang mengurus pangan,” pungkasnya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), kenaikan terjadi pada sejumlah komoditas utama, terutama bawang merah, beras, dan minyak goreng pada Senin, 8 Juni 2026.

Harga bawang merah mencatat lonjakan tertinggi, naik 19,25 persen menjadi Rp60.700 per kilogram (kg). Kenaikan juga terjadi pada bawang putih yang naik 7,76 persen menjadi Rp41.650 per kg.

Untuk komoditas beras, harga beras kualitas bawah II meningkat 6,57 persen menjadi Rp15.400 per kg. Sementara itu, beras kualitas super naik tipis 0,29 persen menjadi Rp17.500 per kg.

Kenaikan juga terjadi pada minyak goreng. Minyak goreng kemasan bermerek I naik 1,46 persen menjadi Rp24.350 per kg, minyak goreng kemasan bermerek II naik 1,51 persen menjadi Rp23.500 per kg, sedangkan minyak goreng curah meningkat 0,73 persen menjadi Rp20.700 per kg.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

UIN Ar-Raniry dan UIN Padangsidimpuan Bahas Penguatan Jejaring Program Doktor Studi Islam

24 Juli 2026 - 15:11 WIB

FAH UIN Ar-Raniry Raih Penghargaan Digitalisasi Manuskrip di ADIA 2026

24 Juli 2026 - 15:03 WIB

Kemkomdigi Peringatkan Operator untuk Pastikan Kepatuhan Registrasi Biometrik hingga Gerai

24 Juli 2026 - 13:11 WIB

Komdigi Hormati Putusan MK, Siap Kaji Aturan Pelindungan Sisa Kuota Internet

24 Juli 2026 - 13:08 WIB

Lembaga Wali Nanggroe Identifikasi Persoalan Pengembangan Kawasan Bebas Sabang

23 Juli 2026 - 22:52 WIB

Trending di News